Dipenghujung perjalanan #bebukuan

Jadi mana yang lebih menggembirakan? Terus bergulat dengan kerelawanan, menumbuhkan gerakan literasi, bermandi peluh demi pengadaan buku-buku bacaan di sekolah-sekolah marginal, mewujudkan mimpi taman bacaan sekolah. Atau….., kebijakan pemerintah?

Masih begitu melekat di dada, dua tahun lalu, saat pertama gagasan untuk gerakan #bebukuan ini tiba-tiba muncul entah dari mana datangnya.

Delapan makhluk ajaib, yang seakan nggak pernah habis ide untuk melakukan sesuatu yang heroik. Bahkan kemunculan gerakan #bebukuan pun juga hanya berselang beberapa waktu setelah mereka semua bergiat bareng untuk kegiatan Kelas Inspirasi.

Hampir seluruh sekolah dasar pesisir di Tulungagung dibabat habis oleh mereka, Sekolah dasar yang tanpa perpustakaan mereka buatkan perpustakaan rintisan. Donasi buku, membaca, mendongeng dan bermain bersama adik-adik sekolah dasar menjadi kegiatan utamanya.

Menuju sekolah-sekolah pesisir pantai Tulungagung, demi untuk berbagi bersama adik-adik.

Dan sekarang, semua seakan berada di ujung persimpangan jalan. Seiring dengan terbitnya Permendikbud No. 8 Tahun 2017 tentang JuknisBOS tahun 2017.

Lhah, emang kenapa dengan BOS? Mari kita oncek-i bersama-sama. Siap?! Jadi begini saudaraku sekalian. Jika dilihat di surat Permendikbud No 8 Tahun 2017 pada halaman 36, disebutkan bahwa Tim BOS Provinsi dan Tim BOS Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya harus memastikan bahwa sekolah mencadangkan separuh dari dana BOS triwulan II (20% dari alokasi satu tahun) di rekening sekolah untuk pembelian buku teks  yang harus dibeli sekolah dengan  ketentuan jumlah yang ditetapkan pada bab selanjutnya.

Baca Juga : Keluarga-8 : Kegiatan #bebukuan di SDN Kalibatur 5, Tulungagung.

Demi mendengar berita itu, hati saya pun seakan tersambar petir di siang bolong. Galau tingkat dewa pun menghampiri. Apalagi, berita itu diawali dengan Chat seorang temen yang juga ber profesi sebagai Guru Sekolah Dasar, yang katanya di sekolah tempat dia mengajar pun juga sudah ramai di bicarakan.

Kembali kepertanyaan awal tadi, Jadi mana yang lebih menggembirakan? Jelas Permendikbud No 8 Tahun 2017 ini sangat menggembirakan! Artinya, kelak mulai tahun ajaran 2017 ini sudah tidak ada lagi Sekolah Dasar yang tidak memiliki perpustakaan. Budaya literasi sekolah akan lebih kuat lagi tertanam di benak adik-adik kita.

Lalu bagaimana dengan nasib #bebukuan? Ah, sudahlah….. Seperti halnya rasa khawatir saya ini yang hanya bertahan hanya beberapa menit saja. Orang-orang dibalik gerakan #bebukuan ini saya yakin sekali adalah orang-orang yang super baik.

Semoga Budaya literasi sekolah akan lebih kuat lagi tertanam di benak adik-adik kita.

Tentu juga akan dengan mudah menemukan jalan kebaikan lain yang bisa mereka lakukan. #bebukuan hanyalah secuil refleksi dari semangat mengabdi mereka untuk menciptakan generasi bangsa yang lebih baik.

Permendikbud No 8 Tahun 2017 tentu akan disambut dengan penuh kegembiraan buat mereka. Purnalah tugas mereka untuk membangun budaya literasi di lingkunan sekolah, tongkat estafet sudah diterima oleh BOS.

Sekarang, saatnya memulai sebuah kebaikan lain…..

Related posts

2 Thoughts to “Dipenghujung perjalanan #bebukuan”

  1. Meskipun begitu alangkah baiknya jika tetap dilanjutkan program #bebukuannya mas. Paling tdk dg tetap menggemakan literasi kepada naak SD… Hihihi… Just sharing aja sih

  2. Yuk bergerak mas. semoga adik2nya cinta buku

Leave a Reply