Forum Diskusi Publik – Bijak Bermedia Sosial : Berbisnis Ujaran Kebencian dan Hoax

Malang – 19 September 2017 bertempat di Hall Bromo, Hotel Aria Gajayana – Malang Kemenkominfo bekerjasama dengan TA Media Group dan Malang Citizen menggelar Forum Diskusi Publik dengan tema Bijak Bermedia Sosial.

Acara yang digelar dari pukul 9 pagi ini diikuti lebih dari 175 peserta yang terdiri dari Mahasiswa, pegiat media, blogger, guru dan masyarakat umum yang concern di dunia digital. Bahkan menurut informasi yang didapat, panitia terpaksa menutup pendaftaran lebih cepat karena peserta yang mendaftar diluar dugaan.

Tema Sosial Media memang menjadi isu seksi yang tidak pernah habis dibahas untuk saat ini, banyak fenomena-fenomena menarik yang secara tidak langsung mempengaruhi kultur budaya bangsa yang terjadi akibat media sosial.

Tidak tanggung-tanggung Forum Diskusi Publik kali ini menghadirkan para keynote speaker yang begitu kompeten di bidangnya masing-masing. Prof. Dr. Drs. H. Henry Subiakto, SH, MA Staf Ahli Menteri Kominfo RI Bidang Hukum yang juga merupakan Guru Besar FISIP  Universitas Airlangga adalah salah satu diantaranya.

Henry Subiakto, SH, MA dalam paparan Forum Diskusi Publik menyampaikan bahwa “Di era post truth, bisnis Hoax dan ujaran kebencian sudah seperti Narkoba. Ada konsumen yang ketagihan. Ada kelompok yg  membutuhkan. Ada yang senang mendistribusikan. Dan  ada pihak punya uang untuk bikin dan menggunakannya.

Rekayasa berita di medsos sudah menjadi senjata/peluru politik yang diperjual belikan.” lanjutnya. Untuk itu, kita sebagai “konsumen” harus benar-benar cerdas dalam memilah dan memilih sebuah berita.

Saat ini, berita HOAX seakan sudah menjadi media utama. Lalu, bagaimana kita bisa mengeteahuinya? Prof. Dr. Drs. H. Henry Subiakto, SH, MA memaparkan ciri-ciri mudah mengenali berita Hoax. Diantaranya : Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan,  (Fear Arousing), tapi juga pemujaan berlebihan. Selanjutnya, Sumber biasanya tidak jelas, tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab, atau klarifikasi kebenaran (Whispered Propaganda).

Ciri yang lain adalah pesan yang provokatif, sepihak, menyerang, dengan kata kata perjuangan  ”lawan”, “viralkan”, “hancukan”. Manfaatkan fanatisme agama, ideologi, suara rakyat (transfer device). Biasanya juga dibarengi dengan penjulukan buruk pada pihak lain (Name calling device).

Selanjutnya, yang bisa dijadikan ciri-ciri berita Hoax adalah dengan menggunakan buzzer , hingga robot, untuk mendukung mereka (band wagon) dan menggunakan argumen yang sangat teknis, supaya nampak ilmiah dan dipercaya (Card Stacking)

Kapolres Malang Kota, AKBP Hoiruddin Hasibuan memberikanpaparannya dalam Forum Diskusi Publik bersama Prof. Dr. Drs. H. Henry Subiakto, SH, MA Staf Ahli Menteri Kominfo RI Bidang Hukum, H.Moh.Nurhakim,Ph.D dari MUI Kota Malang dan Budiono, seorang pegiat media sosial.

Melengkapi Forum Diskusi Publik kali ini, hadir juga H.Moh.Nurhakim,Ph.D dari MUI Kota Malang yang juga  sekaligus Ketua MTT PWM Jatim. H.Moh.Nurhakim,Ph.D mengupas fenomena Sosial Media dalam kacamata Agama.

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada bulan Juli lalu merilis fatwa tentang penggunaan media sosial. Fatwa dirilis karena saat ini media sosial kerap dijadikan wadah untuk menyebar ghibah, kebencian, fitnah, dan konten pornografi.

Ada beberapa poin yang diharamkan dalam fatwa ini, yakni:

  • Melakukan ghibab, fitnah, namimah, dan menyebarkan permusuhan
  • Melakukan bullying, ujaran kebencian, da permusuhan berdasarkan suku, ras, atau antara golongan
  • Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup
  • Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala yang terlarang secara syari
  • Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai dengan tempat atau waktunya

H.Moh.Nurhakim,Ph.D  menambahkan, bahwa Pedoman bermuamalah pada prinsipnya bermedia sosial itu untuk silaturahim, merukunkan antar elemen bangsa. Para ulama dan tokoh agama harus terus mensosialisasikan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab dengan mendorong pemanfaatannya untuk kemaslahatan umat dan mencegah mafsadat yang ditimbulkan.

Baca juga : Peran masyarakat dalam pembangunan nasional & otonomi daerah

Dalam kacamata hukum, khususnya di Kota Malang, Forum Diskusi Publik – Bijak Bermedia Sosial ini juga menghadirkan AKBP Hoiruddin Hasibuan selaku Kapolres Malang Kota. Dalam paparannya, AKBP Hoiruddin Hasibuan mengatakan saat ini UU ITE menjadi salah satu acuan dari maraknya aktifitas media sosial.

Di Kota Malang sendiri, kasus dengan pelanggaran UU ITE cukup banyak terjadi, terutama penipuan online. Dari data yang berhasil di himpun hingga September 2017 ini Polres Malang Kota hampir setiap hari menerima laporan penipuan online. Bahkan terakhir, masih dua minggu yang lalu Polresta Malang Kota berhasil menangkap pelaku penipuan online.

Berfoto bersama dengan berkampanye untuk bijak dalam bermediasosial

Setidaknya ada sekitar 52 laporan kasus penipuan online selama tahun 2017 ini yang terjadi di Kota Malang. Untuk itu, selaku Kapolres Malang Kota, AKBP Hoiruddin Hasibuan dirasa perlu melakukan beberapa upaya menekan tindak pidana media sosial seperti peningkatan giat patroli medsos.

Terkait dengan kemajuan teknologi, Mapolresta Malang menyediakan aplikasi khusus yang dapat digunakan masyarakat yaitu Panic Button. Aplikasi yang ditujukan untuk merespon kejadian-kejadian khusus ini terhubung langsung dengan Mapolresta Malang, sehingga memudahkan laporan masyarakat untuk segera ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.

Terakhir, melengkapi elemen narasumber dalam Forum Diskusi Publik kali ini, hadir juga di tengah-tengah peserta forum, sosok yang tidak asing lagi didalam dunia blogging. Beliau adalah Budiono, seorang pegiat media sosial yang cukup komplit, mulai dari Entrepreneur, Google Local Guides, Blogger, YouTube/Vlogger, SEO dan juga Web Hosting.

Budiono menyampaikan, bahwasannya bijak dalam bermedia sosial ini adalah kewajiban kita semua, tanpa memandang pangkat dan jabatan. Tidak ketinggalan para blogger, Budiono mengingatkan untuk para blogger mulai rajin menulis hal-hal yang bermanfaat bagi sekitar. “Pemerintah tidak bisa memerangi sendiri. Akhirnya komunitas blogger bersepakat harus melibatkan diri tanpa perlu menunggu diajak,” jelasnya.

Ikut berpartisipasi dalam penandatanganan petisi anti hoax.

Forum diskusi ini begitu antuas dinikmati oleh para tamu undangan, pegiat blog, netizen, pengamat media sosial, mahasiswa dari beberapa PTN dan PTS serta masyarakat yang hadir hampir tidak ada yang beranjak dari tempat duduknya hingga acara usai.

Apalagi, selain diskusi, acara ini juga di meriahkan oleh Stand-up Comedy dan penampilan Grup band asli Malang, “Pagi Tadi”. Di akhir acara,  seluruh pengisi dan peserta acara diajak untuk penandatanganan petisi anti hoax yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat.

Related posts

2 Thoughts to “Forum Diskusi Publik – Bijak Bermedia Sosial : Berbisnis Ujaran Kebencian dan Hoax”

  1. Acara ini bikin aku aware sama sosial media. Selain berusaha gak menyebarkan berita hoax, aku juga berusaha untuk membuat konten-konten positif 😀

  2. walaupun sekarang bebas mengemukakan pendapat, namun bukan berrti bebas tanpa batas, kita tetap dituntut untuk bijak bersosmed

Leave a Reply