Hujan Bulan Juni : Puisi Yang Membonceng Sebuah Kisah Cinta

Hujan Bulan Juni – Puisi Sapardi yang berpindah wahana penyampaian. Bukan puisi yang berbentuk film.

Terus terang saya begitu bersemangat ketika mendengar puisi ‘Hujan Bulan Juni’-nya Sapardi Djoko Damono akan difilmkan, atau menurut istilah beliau: “alih medium”. Beralih wahana penyampaian dari semula berbentuk puisi tertulis selazim yang kita kenal sekarang disampaikan kepada kita dengan menggunakan film layar lebar sebagai kendaraannya. Terus terang saya senang sekali. Mulanya.

Betapa tidak, puisi ‘Hujan Bulan Juni‘ ini salah satu puisi favorit saya. Dalam bahasanya yang sederhana ia bercerita tentang hujan salah musim yang turun malu-malu demi rindu pada kekasihnya yang terahasia.

Puisi ini ditulis pada tahun 1989. Jadi, teman-teman, di tahun-tahun itu bulan Juni adalah puncak musim kemarau. Bumi sedang panas-panasnya. Tapi kok ya ndilalah di tengah musim kemarau itu ada hujan yang turun. Hujan salah musim. Salah jadwal.

Hujan Bulan Juni. Credit : Starvision

Dalam bayangan saya tentu hujannya tidak terlalu deras dan durasinya juga singkat. Tengok petikan sajak ini: “…dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.” Hujan turun berupa gerimis, dan bekasnya segera menghilang. Kendati demikian kehadirannya yang singkat mampu membawa sejenak kesegaran di tengah udara yang panas.

Tapi kids jaman now boleh jadi akan sedikit sulit membayangkan seperti apakah hujan yang salah musim itu. Global warming membuat pola cuaca jungkir balik.


Sekarang mari bicara filmnya. Ketika mendengar puisi ‘Hujan Bulan Juni’ akan difilmlayarlebarkan, dalam bayangan saya film ini akan menjadi sebuah film puitikal (istilah ini saya mirip-miripkan dengan istilah film musikal, sih. Hehee..).

Film musikal bukan sekadar film yang banyak lagu-lagu di dalamnya, melainkan lagu-lagunya menjadi bagian tak terpisahkan dari filmnya. Tokoh-tokohnya berdialog dengan menggunakan lagu. Dan biasanya juga plus tari-tarian. Contoh film musikal yang terkenal di antaranya ‘Petualangan Sherina’ (2000) dan ‘La La Land’ (2016).

Meminjam definisi asal-asalan ini, tentu film puitikal berarti film yang tokoh-tokohnya berdialog dengan menggunakan bait-bait puisi. Contoh yang menurut saya termasuk film puitikal adalah ‘Rayya: Cahaya di Atas Cahaya’ (2012). Lalu ‘Hujan Bulan Juni’? Ehehee..

‘Hujan Bulan Juni’ ini berkisah tentang Sarwono (Adipati Dolken) yang seorang, sepertinya, dosen di Universitas Indonesia dan Pingkan (Velove Vexia) yang, menurut sinopsis, dosen Sastra Jepang di Universitas Indonesia. Pingkan ini akan segera berangkat ke Jepang untuk pendidikan masternya selama 2 tahun, dan Sarwono tetap tinggal di Indonesia berusaha mengisi waktu sedapatnya menunggu kepulangan Pingkan. Dan Sarwono ini suka sekali menulis puisi dan menyelusupkannya ke kehidupan Pingkan, dan Pingkan-pun senang-senang saja menerimanya.

Tapi sayangnya, menurut saya, tidak betul-betul jelas Sarwono dan Pingkan ini statusnya apa, hubungan mereka sudah sejauh mana. Apakah mereka berpacaran? Sebatas konco mesra? Ataukah justru mereka ini bapak kos dan anak kos? Ehehee.. Dan pertanyaan ini terus menghantui saya dari awal hingga sekitar dua pertiga durasi film berjalan.

Tapi apakah hal yang semacam ini penting? Bagi saya: ya! Karena ada pepatah yang mengatakan: tak kenal maka tak sayang. Kalau kita tidak kenal siapa tokoh yang muncul di layar, lalu bagaimana bisa kita peduli dengan nasib mereka? Terkecuali memang itu yang diinginkan oleh si pembuat cerita. Dan itu bebas-bebas saja. Sebagai penonton saya cukup mengapresiasi saja.

Hujan Bulan Juni yang dihujani puisi romantis. Credit Starvision.

Dibuka dengan bunga-bunga sakura yang bermekaran dan perumpamaan tentang ronin, samurai, dan bunga sakura yang gugur segera setelah mekar, tidak butuh waktu lama bagi film ini untuk beralih latar dari Jepang ke Manado. Nyaris dua pertiga durasi film ini dihabiskan di Manado. Dari yang semula film drama dengan segera berubah menjadi semacam vlog perjalanan wisata.

Dan selama di Manado ini siapa Sarwono bagi Pingkan mulai dipertanyakan (ternyata bukan saya saja yang penasaran Sarwono dan Pingkan ini sebetulnya siapa. Hehee..). Bahkan kepergian Pingkan ke Jepang inipun saya merasa adalah untuk mempertanyakan sebetulnya mereka ini siapa. Adipati Dolken, Velove Vexia, dan pemeran-pemeran lainnya tampil prima.

Baca Juga : Surau Dan Silek – Budaya Minang Untuk Nusantara

Lalu puisinya? Ehehee.. di titik inilah, rasa-rasanya, saya salah duga dengan film ini. Salah paham. Salah berharap.

Kendati puisi memang bertebaran di film ini, dan kutip-able, serta wallpaper-able (?), namun keberadaannya seolah tidak banyak membantu jalannya cerita. Ya barangkali kecuali satu, sih: ‘…aku musafir yang sedang mencari air, kamu sungai yang melata di bawah padang pasir..’ Ini seolah menggambarkan siapa diri Sarwono dan Pingkan.

Sarwono seolah Ayu Tingting, eh musafir, yang kesana-kemari mencari air, yang adalah simbol kemurnian dan kehidupan.

Pingkan adalah hidup Sarwono. Tanpa Pingkan, Sarwono adalah butir pasir yang tersesat di lebat hutan (ada guyonan dari Pingkan di awal film bahwa nama Sarwono sebetulnya berasal dari kata ‘sar’ yang merupakan kependekan ‘nyasar’, dan ‘wono’ yang berarti ‘hutan’. Jadi ‘Sarwono’ kurang lebih berarti ‘nyasar di hutan’. Ada-ada saja).

Tapi di sisi lain, agaknya, keberadaan Pingkan bukan hanya membawa segar pada jiwa Sarwono. Maka tersebutlah nama-nama seperti Pak Tumbelaka (Surya Saputra), Benny (Baim Wong), dan Katsuo (Koutaro Kakimoto), yang sayangnya mereka ini hanya menambah keruwetan yang tidak perlu pada cerita ini. Hilangkan peran dua dari tiga orang tersebut lalu mampatkan ke peran satu orang yang tersisa, niscaya jalannya cerita akan lebih lugas.

Kendati bagi saya pribadi puisi ‘Hujan Bulan Juni’-nya terkesan sekadar membonceng kisah cinta Sarwono dan Pingkan, namun bagi para pemburu kutipan manis dan wallpaper ciamik, film ini sangat layak menjadi pilihan untuk mengapresiasi khazanah perpuisian.

Tabik!

Related posts

Leave a Reply