Kampanye Penyetaraan Difabel – Kota Malang Menuju Kota Ramah Difabel

Kota Malang – Memperingati hari disabilitas internasional, pada hari Minggu, 10 Desember 2017, bertempat di event car free day jalan Ijen kota Malang, komunitas difabel Malang Raya mengadakan kampanye perlunya penyetaraan hak pada rekan-rekan difabel dan penggalangan 1000 tanda tangan inklusi untuk mendukung Malang Raya yang lebih ramah difabel.

Gandhi, seorang pegiat sosial, mengatakan selama ini masyarakat belum terlalu sadar dengan kebutuhan kaum difabel. Fasilitas-fasilitas umum yang tersedia dirasa belum ramah terhadap kebutuhan kaum difabel. Sehingga dari kampanye peringatan hari disabilitas internasional ini diharapkan masyarakat bisa setidaknya sadar atas kebutuhan persamaan hak pada kaum difabel. Dan ke depannya diharapkan Malang Raya bisa menjadi kota yang ramah difabel.

Aksi pawai sekaligus kampanye terhadap masyarakat umum tentang pentingnya sebuah kota yang ramah difabel.

Komunitas yang terlibat dalam kampanye kali ini antara lain Lingkar Sosial (Linksos), Gerkatin, Pusat Pengembangan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) Bhakti Luhur, Organisasi Penyandang Difabel (OPD) Malang Raya, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, Forum Malang Inklusi (FOMI), Komunitas Akar Tuli Malang, Komunitas Shining Tuli Kota Batu, Yayasan Peduli Kasih “KNDJH”, Paguyuban Orang Tua Penyandang Disabilitas “Mutiara Kasih” Kecamatan Kedungkandang Malang, Harmoni Cinta, Indonesia Berbagi, KanGen Water Bigfam, Peace Love Malang, serta Disable Motorcycle Indonesia (DMI) Malang.

Selain penggalangan tanda tangan, komunitas ini juga berpawai di sepanjang jalan Ijen. Ada yang membawa spanduk edukasi tentang difabel, ada putri-putri cilik yang mengenakan baju berbahan daur ulang. Setelah berpawai beberapa orang dari DPC Gerkatin mempertunjukkan keterampilan mereka bermain jimbe tuli. Dan ternyata cara mereka belajar bermain jimbe adalah dengan melihat aba-aba kapan harus memukul jimbenya.

Permainan Jimbe tuli dari DPC Gerkatin menjadi salah satu bukti bahwa disabilitas bukanlah halangan untuk terus berkarya.

Selain itu juga ada yang menggelar senam alfabet dalam bahasa isyarat dan menyanyikan lagu-lagu populer yang juga dinyanyikan dalam bahasa isyarat. Bahkan lagu dangdut seperti “Jaran Goyang” juga bisa dinyanyikan dalam bahasa isyarat oleh Komunitas Akar Tuli.

Atik dari Komunitas Akar Tuli menuturkan senam alfabet dan bernyanyi lagu populer dalam bahasa isyarat ini dimaksudkan untuk mengenalkan bahasa isyarat kepada masyarakat.

Baca juga : Peran masyarakat dalam pembangunan nasional & otonomi daerah

Senam alfabet dalam bahasa isyarat yang dilakukan para penyandang disabilitas yang cukup menjadi perhatian masyarakat umum..

Karena bahasa isyarat cukup ekspresif, maka senam alfabet dalam bahasa isyarat ini mampu menarik minat banyak orang untuk melihat. Yang bergerak bukan cuma tangan, melainkan juga seluruh tubuh.

Dari kampanye edukasi penyetaraan orang dengan difabilitas seperti ini diharapkan agar masyarakat untuk setidaknya sadar akan kebutuhan orang-orang dengan difabilitas terutama pada fasilitas-fasilitas umum. Dan diharapkan ke depannya Malang Raya bisa menjadi kota yang ramah difabel.

Related posts

One Thought to “Kampanye Penyetaraan Difabel – Kota Malang Menuju Kota Ramah Difabel”

  1. wah acaranya bagus yaa.. inspiring

Tinggalkan Balasan