Lady Bird : Perhatikan Christine…!

poster film lady bird

Lady Bird – Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak. Peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa muda. Di masa-masa itu remaja sedang mencari jati dirinya. Mereka mencoba dan berkenalan dengan hal-hal baru yang seru-seru. Kepala mereka dipenuhi oleh ide-ide besar yang kadang terasa mengawang-awang dan emosional. Di masa itu mereka menjadi lebih “semau gue.” Hehee..

Disutradarai oleh Greta Gerwig, LADY BIRD berkisah tentang Christine “Lady Bird” McPherson (Saoirse Ronan), seorang remaja yang beranjak dewasa, dan bagaimana naik-turun komunikasi Christine dengan ibunya Marion McPherson (Laurie Metcalf).

Catatan: Christine menolak dipanggil dengan nama “Christine.” Ia menghendaki hanya dipanggil dengan julukan “Lady Bird,” sebuah nama yang dianugerahkan kepada dirinya oleh dirinya sendiri. Lady Bird digambarkan sebagai sesosok manusia berkepala burung. Atau burung berkepala manusia. Sama anehnya.

Mengambil latar di Sacramento, California, di tahun 2002, keluarga McPherson adalah tipikal keluarga Amerika kebanyakan. Mereka tinggal di daerah pinggiran kota, menyekolahkan anaknya dengan mengandalkan beasiswa, berbelanja baju di toko pakaian bekas, berburu diskon di supermarket, dan ketika malam tiba kedua orang tua berhitung cermat tentang kondisi keuangan keluarga. Hal yang sebetulnya biasa saja.

Terlebih dalam masa sulit itu ayah Christine, Larry McPherson (Tracy Letts), diberhentikan dari pekerjaannya. Hal ini kemudian membuat si ibu terpaksa mengambil shift kerja ganda sebagai perawat di sebuah rumah sakit demi menjaga dapur keluarga mereka agar tetap mengebul. Wanita dengan tekad baja.

Christine "Lady Bird" McPherson (Saoirse Ronan) Source : Scott Rudin Productions
Christine “Lady Bird” McPherson (Saoirse Ronan) Source : Scott Rudin Productions

Tapi, lagi-lagi, kondisi ini juga biasa saja di Amerika sana. Banyak yang mengalami hal serupa. Terutama ketika kondisi perekonomian sedang melambat. Film yang mengangkat isu yang biasa-biasa saja. Hehee..

Kalau begitu filmnya jelek, dong?

Eits, jangan kau sedih, Dek! Film ini memang nampak biasa, tapi sesungguhnya ada hal luar biasa di balik permukaannya yang biasa. Dinamika psikologi si Christine ini menarik untuk disimak. Bagaimana ia bertransformasi menjadi Christine yang lebih dewasa. Itu halus sekali.

Tengok bagaimana cara film ini menggambarkan konflik antara Christine dengan ibunya. Tidak ada kata-kata makian, tidak ada jambak-jambakan, bahkan tidak ada mata melotot-melotot yang di-zoom in zoom out sembari bicara dalam hati “akan kuracuni minumanmu dan kurebus boneka Hello Kitty-mu, anakquuwwhh!!?” Tidak ada.

Konflik paling intens di antara mereka bahkan hanya digambarkan melalui adegan mencuci piring(?). Tapi aura kemarahan, kekecewaan, dan penyesalannya terasa sekali. Dibutuhkan aktris, sutradara, penata kamera, editor, dan penulis skenario yang djempolan untuk bisa menghasilkan efek seperti ini.

Hal lain yang menarik dari film ini adalah kualitas gambarnya. Mirip seperti foto yang direkam menggunakan media film analog, yang negatif filmnya kemudian diproses sedikit lebih ‘matang’ ketimbang hitung-hitungan kamar gelap yang sudah diresepkan. Hal ini kemudian berakibat pada grain yang dihasilkan menjadi besar-besar dan warnanya lebih ‘matang’. Bagi penggemar fotografi analog dengan available light ini asyik sekali.

Saya pribadi puas.

Beranjak dewasa, anakku Christine tercinta. Sudah waktunya belajar berpijar. Jangan takut, jangan layu pada semua cobaan yang menerpa. Kami selalu bersamamu dalam derap, dalam lelap mimpi indah bersamamu.”

Perhatikan Christine..

NEXT

Related posts

Leave a Reply