Mau Jadi Apa? : Aku Berproses Maka Aku Ada

Karya perdana Soleh Solihun sebagai sutradara merangkap pemeran utama. Cerita yang jujur (kurang lebih) tentang apa-apa yang pernah ia sendiri lalui di masa mudanya. Mau Jadi Apa ? Semacam curhat?

 

Tentu banyak dari kita yang sudah mengenal Soleh Solihun ini seorang komika (pelaku stand-up comedy; becanda sambil berdiri-berdiri). Pun tak sedikit, saya kira, yang juga tahu bahwa ia dulunya seorang jurnalis. Trax Magazine, Playboy Indonesia, dan Rollingstone Indonesia pernah mencatat namanya.

Akan tetapi, ada berapa banyak dari kita yang tahu tentang masa-masa Soleh Solihun sebelum ia menjadi jurnalis dan kemudian komika? Cerita tentang masa kuliahnya, misalnya?

Nah, MAU JADI APA? (MJA?) ini mengisahkan secara jujur (kurang lebih) masa perkuliahan Soleh Solihun di Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, di akhir tahun ’90-an (lumayan lama juga, ya?). Ini adalah debut penyutradaraan Soleh Solihun yang sekaligus merangkap sebagai pemeran utama menggantikan Reza Rahadian yang sedang berhalangan. Kurang lebih.

Tersebutlah Soleh (Soleh Solihun) beserta lima sekawan galaunya Lukman (Boris Bokir), Marsyel (Adjisdoaibu), Eko (Awwe), Syarif (Ricky Wattimena), dan si cantik Fey (Anggika Bolsterli) mempertanyakan untuk apakah mereka di sini, sementara sudah satu setengah tahun berkuliah tapi masih juga belum tahu mereka ini pengennya gimana? Mau jadi apa? Jangan-jangan mereka salah jurusan? Hmm..

Saya rasa pikiran yang begini-begini ini jamak dialami oleh sebagian dari kita, bukan? Yaa.., setidaknya saya dulu begitu, sih. Hehee.. Mereka ini kuliah ya begitu-begitu saja. Tidak ada yang istimewa. Mereka seolah mahasiswa tak kasat mata. Dan itu.. meresahkan.

Mereka sedang mencari jati diri untuk berusaha menancapkan eksistensi di antara bermilyar bintang yang ada di langit(?).

Beragam kegiatan kampus mereka coba. Aktivis politik kampus, olah raga, pecinta alam, hingga kegiatan kelompok rohani. Tapi hasilnya nihil. Gagal total. Yang masih agak lumayan, ya si Soleh. Ia bergabung dengan pers kampus ‘Fakta Jatinangor’ sebagai calon reporter dan terlihat cukup betah di sana.

Spleh Solihun, sutradara sekaligus pemeran utama Mau Jadi Apa? Credit Starvision

Alasan Soleh bergabung dengan Fakta Jatinangor ini mulia sekali: di Fakta Jatinangor ada Ros (Aurelie Moeremans), Slankers cantik (banget) yang baik hati dan tidak sombong yang ia kenal dari masa-masa ospek dulu. Tapi takdir seolah tak mau bersikap lunak kepada Soleh. Ia menghadirkan satu orang yang menjadi penghalang cinta Soleh kepada Ros: Panji (Ronal Surapradja), si pemimpin redaksi Fakta Jatinangor yang arogan. Hhh..

Bicara tentang Fakta Jatinangor, ini adalah penerbitan prestis di kampus Unpad. Kehadirannya selalu dinanti, dan isu yang diangkat, hmboookk.., sangat serius! Tidak pernah jauh dari isu-isu politik (di akhir ’90an, topik yang sedang hangat dibahas di penerbitan-penerbitan kampus memang tidak pernah jauh dari politik. Soalnyaaa.., yaa.., gitu, deh. Politik negara sedang dinamis. Dan mahasiswa sebagai agent-of-change musti bersuara. Katanya, sih, gitu).

Sementara si Soleh ini lebih tertarik dengan isu-isu yang lebih ringan, seperti grup band Pure Saturday yang akhirnya kembali rekaman setelah empat tahun vakum. Dan ide ini tentu saja mendapat tentangan dari awak redaksi Fakta Jatinangor karena dianggap ini isu yang terlalu remeh dan tidak ada kontribusinya terhadap pencerdasan kehidupan bangsa. Pure Saturday? Yang bener aja..

Gagasannya ditentang, ditambah ia ingin bisa punya ‘sesuatu’ untuk dibanggakan di depan Ros gadis pujaannya, dan kawan-kawan galaunya juga menghadapi permasalahan eksistensi diri yang kurang lebih serupa, Soleh dan kawan-kawannya kemudian membuat satu media tandingan Fakta Jatinangor yang mereka sebut: KARUNG GONI; Kabar, Ungkapan, Gosip, dan Opini.

Dengan modal swadaya, seadanya, dan sekenalnya, dimulailah proyek penerbitan Karung Goni. Beritanya yang ringan seperti rubrik karikatur, gosip kampus, profil gadis-gadis kampus, hingga rubrik curhat, pelan tapi pasti Karung Goni mulai menunjukkan eksistensinya. Bahkan ada masa di mana Karung Goni mampu bersaing head-to-head dengan Fakta Jatinangor. Ini patut dibanggakan!

Namun begitu, ada pula yang beranggapan bahwa Karung Goni ini tak lebih dari koran kuning (yellow journalism) yang mengobral sensasi minim substansi. Dan sebagai penerbitan yang lahir di sebuah kampus jurnalistik, ini jelas memalukan. Terlebih ketika dalam satu penerbitannya Karung Goni mengeluarkan satu laporan investigasi yang menggemparkan seisi kampus, ada wacana untuk membredel Karung Goni dan awak redaksinya. Wew!

Tapi, yah, bagaimanapun juga dari titik inilah Soleh dan kawan-kawan galaunya mulai mendapat pencerahan mereka ini maunya jadi apa. Perjuangan pun dimulai. Jadi, bakal jadi apa mereka?


Soleh tak sendiri.

Sebagai sutradara debutan, nampaknya Soleh Solihun masih belum diijinkan untuk membesut MJA? ini sendirian. Di sini ia berduet dengan sutradara yang jauh lebih senior dan kenyang pengalaman: Monty Tiwa.

Beberapa film yang pernah disutradarai Monty Tiwa antara lain ‘Maaf, Saya Menghamili Istri Anda’ (2007), ‘Laskar Pemimpi’ (2010), dan ‘Sabtu Bersama Bapak’ (2016). Dan hasil dari duo ini ciamik! Tenan, gak goroh!

Sebagai sebuah film komedi, Mau Jadi Apa? ini lucu. Tiap beberapa menit sekali penonton akan dibuat tertawa oleh becandaannya. Meminjam istilah di stand-up comedy: premis dan punchline-nya rapih. Penonton akan diajak ke satu situasi tertentu, dimanipulasi agar memiliki bayangan/ekspektasi tertentu atas apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi kemudian si empunya cerita malah mematahkan bayangan tersebut.

Dan sebagai komika, Soleh Solihun tentu piawai dengan hal semacam itu. Apalagi di film ini bertabur komika-komika profesional dalam peranannya masing-masing yang membuat guyonan-guyonan yang mereka lontarkan terasa begitu wajar. Natural. Juga banyak sekali cameo yang kehadirannya bisa membuat senyam-senyum sendiri.

Tapi apakah ini berarti dari awal hingga akhir film ini penuh dengan adegan-adegan lucu, atau setidaknya dilucu-lucukan? Tendensius? Nah, ini yang menarik dengan MJA?. Jawabannya: Tidak. MJA? ini bagi saya lebih terasa sebagai sebuah drama yang kebetulan di dalam ceritanya tokoh-tokohnya senang sekali becanda satu sama lain.

Ya kurang lebih guyonannya seperti kalau kita sedang kumpul-kumpul sama temen-temen se-geng, sih. Pasti ketawa-ketawa tanpa ada diniatkan untuk melucu. Inilah yang membuat MJA? terasa alami dan akrab bagi penonton. Dan ini bagus!

Kita ambil contoh dialog yang terjadi antara Marsyel dengan Eko. Ceritanya si Eko ini setelah dari Unpad ingin meneruskan kuliah di Australia. Mendengar ‘Australia’, Marsyel menimpali: “Negeri wool?” Eko menjawab: “Katanya, katanya.” Marsyel menimpali lagi: “Kanguru binatangnya?” Eko menjawab lagi: “Katanya, katanya.” Nyaris seisi bioskop menertawakan dialog ini.

Nah, tahukah Anda apa referensi guyonan tersebut? Yak, betul! Lagunya Trio Kwek-Kwek yang berjudul “Katanya, Katanya.” Lagu ini lejen sekali di generasi ’90-an. Liriknya sering dipakai guyonan persis seperti itu. Dan itu menyenangkan. Hehee..

Soleh (Soleh Solihun) beserta lima sekawan galaunya Lukman (Boris Bokir), Marsyel (Adjisdoaibu), Eko (Awwe), Syarif (Ricky Wattimena), dan si cantik Fey (Anggika Bolsterli) Mau jadi apa?

Tapi memang, sih, yang namanya komedi untuk bisa terasa lucunya itu sangat bergantung pada kesamaan referensi yang dimiliki oleh audiens dan si komedian. Biar nyambung. Kalau enggak, ya ga bakal nyampe pesannya. Audiens hanya akan plonga-plongo tidak ngerti sisi lucunya di mana. Krik-krikk..

Tapi Anda tidak perlu khawatir, Kawan, karena guyonan yang ditampilkan di Mau Jadi Apa? ini tidak melulu mengambil referensi dari era ’90-an. Banyak komedi yang cukup slapstick untuk bisa dinikmati oleh semua generasi. Film ini lucu, kok!

Hal lain yang menonjol dari film ini adalah lagu-lagu tema yang digunakan. Soleh Solihun adalah mantan wartawan musik. Maka tersebutlah lagu-lagu berkelas seperti Kuliah Pagi (Harapan Jaya), Kosong (Pure Saturday), Statis (Plastik), Terserah (Slank), Impresi (PAS Band), Bintang (Air), Langkah Peri (Cherry Bombshell), Jikalau (Naif), Kosong Sama Kosong (Slank), Walah (Netral), dan Penggalan Kisah Lama (La Luna) mengisi soundtrack film ini.

Itu adalah lagu-lagu lejen era ’90-2000an yang video clip-nya sering diputar di DELTA (Deretan Lagu-lagu Teratas) yang tayang tiap hari Sabtu jam 9 pagi di RCTI di jaman itu. Hehee..

Ditampilkannya banyak lagu lawas seperti ini, sih, bagi saya tidak terlalu mengejutkan. Seperti kata pepatah Yunani ‘tak kenal maka tak sayang’, lewat film ini Soleh Solihun seolah ingin memperkenalkan secara jujur dirinya kepada audiensnya. Apa-apa hal yang ia sukai, seperti apa pertemanannya, hal-hal menarik apa yang pernah ia lalui, yang itu semua membentuk dirinya hingga menjadi seperti sekarang ini. Singkatnya: curhat. Ngg.., kurang lebih!!

Dan walaupun sebagai sutradara debutan, Soleh Solihun nampak tidak ingin serampangan dalam menghadirkan era ’90-an dalam Mau Jadi Apa?. Beberapa hal detil yang bisa menjadi penunjuk zaman ia persiapkan secara hati-hati. Misalnya angka tahun akhir plat nomor kendaraan yang digunakan. Semuanya terlihat akan habis  di tahun 2000-an.

Juga uang yang terlihat digunakan bertransaksi. Uang dua puluh ribuan yang masih bergambar Ki Hajar Dewantara! Kereenn.. Tapi beberapa uang pecahan lainnya terlihat lecek dan dilipat-lipat kecil ketika dipertukarkan. Barangkali ini supaya tidak terlalu terlihat nominal dan gambar pahlawannya siapa. Hahaa..

Namun nonton film mau jadi apa? yang menurut saya kentara agak ‘salah era’ itu busana dan gaya rambut pemainnya. Si Soleh memang terlihat banget jadulnya, tapi si Fey itu yang astagaaa.. cantik banget! Gaya rambut seperti itu rasa-rasanya terlalu modern. Apalagi gayanya si Andhika Pratama. Hmm, terlalu ganteng, Mas..

Hal lain. Bagi saya, kendati rapih, secara visual MJA? ini terasa biasa saja. Tidak terlalu istimewa. Tata cahayanya juga cenderung ‘keras’. Komposisinya juga tidak memancing perenungan(?). Tapi eksplorasi teknik pengambilan gambarnya patut dipuji.

Baca juga : Hujan Bulan Juni : Puisi Yang Membonceng Sebuah Kisah Cinta

Ada adegan di mana Soleh diperlihatkan berdiri diam menghadap kamera dengan wajah nampak datar, tapi orang-orang yang berlalu-lalang di belakangnya kecepatan putar filmnya dipercepat. Ini seolah menyiratkan Soleh sedang merenungkan keadaan dirinya sendiri. Dia stuck di sini-sini saja tanpa ada perkembangan yang berarti sementara kawan-kawannya lain sudah lebih mantap langkahnya. Mereka sudah tahu mereka mau jadi apa, dan untuk itu mereka juga sudah tahu musti ngapain.

Momen ‘hening’ semacam ini salah satu adegan yang membekas di diri saya. Karena.. dulu.. saya pernah.. ada.. di posisi itu. Lho, kok, curhat? *maap*

Pun adegan Soleh yang beberapa kali menatap langsung ke arah kamera dan beralih peran menjadi narator yang berdialog dengan penonton, juga ketika Soleh dan kawan sepergalauannya berulang kali bertanya “Mau Jadi Apa? ini film, bukan, sih?”, itu asik. Penonton yang terlalu terhanyut dengan filmnya boleh jadi akan menimpali mereka. “Ini film, Soooobbb!!” Hahaa..

Selain itu juga ada beberapa konflik yang bagi saya nampak terlalu dipaksakan konklusinya. Karena pada prinsipnya semua ‘simpul’ (konflik) yang terbuka musti ditutup kembali. Biar enak ditontonnya, biar tidak mubazir konflik tersebut dihadirkan. Pun konflik yang (akhirnya) terselesaikan karena faktor ‘kebetulan’, bagi saya pribadi itu kurang menyenangkan. Semustinya, sih, bisa dipikirkan jalan keluar yang lain.

mau jadi apa trailer :

Mengapa? Karena bagi saya, ketika menonton film (atau membaca cerita), yang paling asik itu justru menyaksikan perjuangan si tokoh, dan bukannya hasil akhirnya. Ya, seperti yang dinasehatkan oleh Ayah si Soleh (Joe P. Project), sih: “mens sana in corprosesano; kalau prosesnya ke sana tapi ternyata hasilnya ke sono, ya tidak apa-apa. Karena yang lebih penting itu prosesnya.” *salim*

Tapi tak apa, lah. Secara teknis “Mau Jadi Apa?” ini barangkali terasa tidak canggih-canggih amat. Bisa dibuat lebih rapih, sebetulnya. Tapi kejujurannya dalam berkisah itulah yang saya rasa membuat film ini berkesan.

Bisa tertawa lepas, penonton yang masih membahas adegan-adegan filmnya ketika berjalan keluar bioskop, bahkan sebagian (besar) masih setia bertahan di kursi masing-masing hingga credit tittle benar-benar selesai dan lampu studio dinyalakan. Itu asik. Hal yang jarang-jarang terjadi di penayangan film Indonesia. Kurang lebih…

What? mau download film mau jadi apa? jangan dongk…! Yuk, support Film Nasional kita dengan nonton di bioskop.

Tabik!

Related posts

Leave a Reply