Mengembalikan Jati Diri – Karena nama punya cerita

Tau jati diri kan? Iya, perpaduan antara kata “Jati” dan “Diri”. Jati adalah jenis kayu yang semakin tahun semakin mahal harganya, kuat, dan tahan lama. Sedangakn diri adalah badan/awak. He he he….., bener sih, tapi bukan itu maksudnya…. Kalo di liat di kamus bahasa Indonesia via wiktionary, jati diri adalah ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda; identitas.

Saya tidak lagi mau ngomongin tentang jati diri saya sendiri, tapi coba ke lingkup yang lebih luas lagi, yaitu jati diri bangsa! Hais…., keberatan mas! Gimana kalo di persempit lagi. OK, dijadikan pembahasan tentang jati diri wilayah / kabupaten. Ho’oh….., mana lagi kalo bukan kota kita tercinta, Tulungagung!

Setiap kota / kabupaten di Indonesia, terutama pulau Jawa tentulah memiliki area terbuka yang berbentuk bulat (meski ga bener-bener bulet) yang terletak di pusat pemerintahan yang bernama Alun-alun. Menurut Van Romondt (Haryoto, 1986:386), pada dasarnya alun-alun itu merupakan halaman depan dari penguasa (bisa berarti raja,bupati ) yang dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat sehari-hari dalam ikwal pemerintahan militer, perdagangan, kerajinan dan pendidikan. Jadi tidak heran, setiap kota pasti memiliki yang namanya Alun-alun, begitu juga Tulungagung.

Alun-alun Tulungagung sejak 22 Oktober 2007 yang lalu resmi  mempunyani nama TAMAN KUSUMA WICITRA. Sebuah nama yang hingga delapan tahun terakhir menjadi sebuah identitas Tulungagung, nama yang akhirnya menjadi sebuah jati diri. TAMAN KUSUMA WICITRA seakan menjadi keyword untuk menunjukan tempat di mana Tulungagung berada.

Namun sayang, jati diri yang sudah melekat kuat di masyarakat ini pada tahun 2014 dipaksa untuk di rubah. Dengan dalih ingin mengembalikan fungsi asalnya yaitu sebagai alun-alun,“Kami rubah namanya ke fungsi asalnya. Namanya Alun-alun ya Alun-alun. Namanya menjadi Taman Alun-Alun, karena Alun-alun ada tamannya,” ujar Bupati Syahri, Selasa (17/6).

Baca juga : Gunung Budheg – Tulungagung dan sejuta pesonanya.

Entah kenapa, saya merasa kok ada analogi yang salah mengartikannya. Menutur hemat saya (karena hemat pangkal kaya), Alun-alun adalah sebuah nama yang bisa di sejajarkan kedudukannya dengan nama jenis misal manusia atau hewan. Sedangkan TAMAN KUSUMA WICITRA adalah sebuah nama spesifik dari sebuah jenis sebagai identifikasi. Misal manusia, dengan beberapa nama identifikasi : Bejo, Joko, Suprapto, dll. Sedangkan jika hewan memiliki beberapa nama identifikasi : Kucing, Sapi, Kambing, dll. Jadi begitu nama TAMAN KUSUMA WICITRA dikembalikan menjadi nama “Taman aloon-aloon”, seakan membuat Bejo, Joko, Suprapto menjadi hanya sekedar “manusia” yang tidak teridentifikasi, manusia tanpa nama.

Tugu Garuda yang berada tepat di tengah Aloon Aloon, semoga tidak ada niat untuk di ganti juga dengan entah apa. Karena ini juga sudah menadi ikon Tulungagung. Foto by : Salma

Disaat TAMAN KUSUMA WICITRA dikembalikan menjadi nama “Taman aloon-aloon”, identisas kota Tulungagung juga akan hilang, Taman aloon-aloon akan menjadi Alun-alun yang juga ada di semua kota lain.

Ah, sampean ini gitu aja kok baper sih mas. Kejadian sudah dari tahun-tahun kemarin kok masih di bahas aja, susah move on ya? Trus maunya smpean opo? Kaya ga ono urusan lain yang lebih bermanfaat aja…!!

Pasti banyak pembaca yang dalam hati kecilnya berujar yang sama, he he he…. Jadi begini saudara-saudaraku sekalian…. Didalam ilmu marketing ada namanya startegi branding, dimana dalam “menancapkan” brand image itu butuh waktu yang panjang dan biaya yang mahal, lha dalam kasus ini TAMAN KUSUMA WICITRA sudah menjadi brand dari sebuah Alun-alun Tulungagung.

Kenapa harus repot-repot di ganti? Justru pertannyaan saya balikin lagi, opo ga ono urusan lain yang lebih bermanfaat selain repot-repot mengganti nama?

Merujuk dari pernyataan berikut : “Ia menilai perubahan nama Alun-Alun Kota Tulungagung tidak akan bermasalah. Apalagi namanya belum dimasukkan dalam Peraturan Daerah (Perda) setempat.” Disini saya masih melihat secercah harapan untuk susah move on dari kasus ini. Kalo perlu rame-rame kita bikin petisi untuk mengembalikan nama TAMAN KUSUMA WICITRA untuk Alun-alun Tulungagung. Kita minta tuntutan untuk sekalian pembuatan akte kelahiran dari si Alun-alun biar namanya jelas dan ga di ganti-ganti, sekalian kita tuntut untuk jomblo-jomblo agar dipelihara oleh negara! Eh,…..

Related posts

Leave a Reply