Pengabdi Setan : Selamat datang di Semesta Joko Anwar

Bahkan menjelang kematian, ada rahasia besar yang teguh disembunyikan. Ya, mereka yang masih hidup bisa sedemikian mengerikannya! Selamat datang di Semesta Joko Anwar..

[DISCLAIMER]

Tulisan ini mengandung spoiler.

Bagi kalian yang belum menonton, disarankan untuk menontonnya terlebih dahulu sebelum membaca tulisan ini.

Mengambil latar di tahun ’80-an, film dibuka dengan adegan seorang perempuan yang sembari berbaring berkomat-kamit entah membaca apa, yang kemudian akan kita sadari bahwa itu adalah Ibu (Ayu Laksmi).

Cerita kemudian beralih kepada sosok Rini (Tara Basro) yang bertamu ke kantor seorang produser musik untuk menagih uang royalti lagu yang dinyanyikan Ibu. Uang itu sedianya untuk membayar biaya perawatan Ibu yang tengah sakit keras dan terpaksa dirawat di rumah saja karena ketiadaan biaya untuk membawa Ibu ke rumah sakit. Namun kenyataan tak seindah harapan. Rini pulang dengan hasil yang tak sepadan.

Selain Ibu, di rumah Rini tinggal bersama Nenek (Elly D. Luthan), Bapak (Bront Palare), serta ketiga adiknya: Tony (Endy Arfian), Bondy (Nassar Annuz), dan si kecil Ian (M. Adhiyat) yang rupa-rupanya tunawicara.

Dalam perjuangan mereka merawat ibu, banyak hal sudah mereka korbankan. Rumah digadaikan, motor Tony satu-satunya dijual, perabot rumah yang rusak terpaksa hanya diperbaiki ala kadarnya, pun celana sekolah Bondy yang sudah robek karena usang terpaksa kembali hanya dijahit.

Namun takdir tak dapat ditolak. Ibu meninggal dalam cara yang tak biasa. Jasad Ibu kemudian dikebumikan di pemakaman di dekat rumah, lalu diadakan selamatan dengan mengundang Pak Ustadz (Arswendi Bening Swara) dan tetangga sekitar.

Tapi rupa-rupanya Rini, keluarganya, dan terutama sekali Bapak, bukan orang yang rajin beribadah. Terlihat dari raut muka dan pandangan mata Bapak yang merasa aneh dan asing dengan ritual pamakaman dan pengajian yang dilangsungkan di hadapannya. Seolah menyiratkan pertanyaan “ini orang-orang lagi ngapain, sih?”

Dan sepeninggal Ibu, hal-hal yang tak terjelaskan nalar mulai dirasakan Rini dan adik-adiknya. Bapaknya, sih, enggak. Karena doi sedang pergi ke Kota kendati Ibu baru beberapa hari meninggal. “Ada urusan,” katanya, tanpa menjelaskan urusan apa itu yang sedemikian penting maupun kapan akan kembali.

Pengabdi Setan merupakan remake karya Joko Anwar dari film berjudul sama yang pernah dirilis pada tahun 1980. Credit – Rapi Films dan CJ Entertainment

Menyikapi hal-hal tak masuk akal yang mereka alami, Rini hanya menyangkal. Bahkan ketika ‘Ibu’ terlihat kembali pulang. Karena menurutnya hal-hal tersebut konyol. Mustahil. Keluarga mereka tidak percaya klenik. Apalagi Bapak pernah berkata, “Orang mati, tuh, gak bahaya.”

Benarkah?

Sebagai sebuah film horor Indonesia, Pengabdi Setan menurut saya unik. Berbeda dengan film-film horor lain yang, lazimnya, begitu royal dengan adegan-adegan jump-scare (adegan ngaget-ngageti di mana setannya tiba-tiba saja muncul entah dari mana hingga penonton kaget dan bisa sampai loncat dari tempat duduk mereka sangking kagetnya), Pengabdi Setan lebih memilih pendekatan ‘atmospheric horror.’

Maksudnya, dalam usahanya memunculkan kengerian, Joko Anwar selaku sutradara akan meletakkan tangannya di pundak kita, menatap lurus ke mata kita, lalu dengan begitu meyakinkan, yang boleh jadi lengkap dengan riasan mata hitam tebal dan mata yang melotot-melotot, berbisik kepada kita: “Tatap mata Joko. Kalian akan merasa ngeri, ngeri, ngeeriii..” sembari menggoyang-goyangkan pendulum di depan hidung kita. Lalu tanpa bisa dijelaskan penyebabnya kita kemudian tiba-tiba merasa.. ngeri.

Hehee.. becanda.

Yang benar: dalam usahanya memunculkan kengerian, Joko Anwar selaku sutradara membangun secara hati-hati dan terencana suasana/atmosfer di dalam filmnya yang diharapkan akan bisa mensugesti penonton untuk pelan-pelan merasakan suasana yang mencekam hingga seolah mereka sendiri yang mengalaminya dan bukan hanya si tokoh yang bermain di dalam film. Ada semacam interaksi dan internalisasi pengalaman pada diri penonton. Dan untuk bisa mencapai hal tersebut tidaklah mudah.

Bentuk rumah yang terkesan tua namun kokoh dan seolah menyimpan banyak ‘cerita’, cahaya yang cenderung remang-remag dengan sedikit aksen nuansa merah yang dalam film-film horor jamak diasosiasikan dengan darah, tata suara bahkan keheningan, serta tata kamera yang sugestif yang seringkali menyorot ke ruang-ruang kosong seolah ingin menunjukkan kepada penonton bahwa ada sesuatu di sana tapi kalian (penonton) tidak bisa melihatnya (atau setidaknya belum), kesemuanya membawa suasana ngeri nan mencekam.

Tapi jeniusnya Joko Anwar, ia tidak membuat suasana yang mencekam seperti tersebut terus-terusan dari awal hingga akhir film. Ia menyiapkan humor-humor segar setelah puncak kengerian. Jadi penonton tidak terus-terusan merasa tegang. Ada istirahatnya untuk kembali menata nafas dan jantung yang berdegub kencang.

Dan hal yang semacam ini adalah berkat skenario yang ditulis secara cermat dengan mempertimbangkan aspek psikologis penonton. Joko Anwar seolah bisa menebak dengan tepat apa yang dialami-dirasakan-dipikirkan oleh penonton ketika menikmati karyanya. Salim..

 Menonton Pengabdi Setan ini di bioskop (saya sengaja memberi penekanan pada kata ‘di bioskop‘) membuat kita seolah diajak menaiki wahana halilintar (roller coaster) di taman bermain. Pelan-pelan kita dibawa menaiki tanjakan yang curam, roda halilintar berderak-derak, bergoyang-goyang, tanjakan yang mulai kelihatan puncaknya, deg-degan karena tahu apa yang akan terjadi setelah halilintar melewati puncak tersebut, hingga tiba-tiba.. whuzz!, halilintar meluncur bebas dalam kecepatan tinggi. Meliuk-liuk.

Setelah beberapa detik diajak jungkir balik, yang bagi beberapa orang boleh jadi terasa lebih lama dari seribu tahun cahaya, kita mulai memasuki jalur yang landai. Dan di titik ini leganya luar biasa. Kita malah tertawa-tawa!

Dan Pengabdi Setan tidak hanya satu kali menawarkan sensasi semacam ini. Berkali-kali dari awal hingga akhir! Dan tensinya semakin meningkat! Wow!

Tapi, beberapa orang boleh jadi tidak setuju dengan saya. “Apaan, ending-nya [spoiler!] begitu doang! Makan-makan lalu joget-joget ga jelas!”

Hehee..

Mari kita simak kembali apa yang dikatakan Bapak kepada Bondy: “Orang mati, tuh, gak bahaya..” Nah! Di sinilah, saya kira, kunci untuk memahami Pengabdi Setan (dan film-film Joko Anwar lainnya yang disebut-sebut orang sebagai Semesta Joko Anwar. Nanti akan kita bahas tentang Semesta Joko Anwar ini). Orang mati gak bahaya, yang masih hidup yang iya!

Perhatikan [spoiler!] Darminah (Asmara Abigail) di bagian akhir credit title, benar-benar di bagian akhir (beberapa penonton barangkali tidak sempat melihat adegan ini karena mereka keburu pulang! Hahahaa..). Ia memandang langsung ke arah kamera, ke arah mata penonton! Lalu tersenyum.. Senyum yang tipis, senyum yang penuh arti. Terus terang saya merasa ngeri. Karena hanya dengan satu adegan itu saja (hampir) semua tanya apa-dan-mengapa dari teror yang ada di Pengabdi Setan ini menjadi jelas. Dan itu karena ‘kesalahan’ Ibu di masa lalu?

Baca juga : Happy Death Day – Over and over and over again!

Pengabdi Setan memang tidak menawarkan penjelasan yang serta-merta gamblang mengenai apa-dan-mengapa yang  terjadi di depan layar. Seolah ada ‘lubang’ di ceritanya. Ada yang kurang lengkap. Misal orang-orang berpayung hitam itu siapa? Biji-biji saga yang mereka taburkan itu untuk apa? Bahkan beberapa adegan malah seperti sengaja menggoda penonton bahwa memang ada hal yang sengaja disembunyikan, dan mereka tidak boleh tahu. Kepo, yaa?? 😘

Tengok adegan dialog antara Hendra (Dimas Aditya) dengan Pak Budiman (Egy Fedly) ketika Hendra meminta penjelasan kepada Pak Budiman mengenai apa yang musti dilakukan Rini. Alih-alih ngomong langsung atau dihilangkan saja adegannya, Pak Budiman malah menyetel musik keras-keras baru bicara kepada Hendra. Dan penonton dibiarkan bertanya-tanya apa sebetulnya yang sedang dinasihatkan Pak Budiman kepada Hendra.

Atau adegan Bapak yang nampak sedang membicarakan sesuatu kepada Ibu yang kemudian ketahuan oleh Rini. Dan setelah didesak sampai tiga kali, Bapak tetap tidak mau bicara. KALO BEGINI, KAN, PENONTON JUGA JADI PENASARAN, BAPAAKK??!!

Tapi hal yang semacam ini bagus juga, sih, bagi penonton. Kita menontonnya tidak cuma pasif duduk-diam-nonton-makan popcorn. Namun kita diajak untuk berpikir: ada apa ini? Apa mau dia sebenarnya? Ada semacam ‘interaksi’ (tidak langsung) dengan filmnya yang (kalau ceritanya memang bagus) membuat penonton peduli dengan cerita filmnya, lalu tetap bertahan hingga film berakhir.


Lalu apa yang dimaksud dengan Semesta Joko Anwar? Begini..

Bagi Anda yang sering menonton film-film Joko Anwar, maka Anda akan bisa melihat adanya ‘benang merah‘ dalam setiap filmnya. Atau setidaknya ada ‘kemiripan’ adegan yang khas.

Contoh: jika Anda sudah pernah menonton Janji Joni, tentu Anda akan merasa cara Hendra mengendarai motor mirip sekali dengan cara Joni (Nicholas Saputra) mengendarai motor. Lengkap dengan warna jaket yang sama, jenis motor yang mirip, sudut pengambilan gambar dari bawah yang serupa.

Atau hutan yang dilewati Rini untuk pulang ke rumahnya. Suasananya mirip dengan hutan yang ada di Modus Anomali. Juga ketika adegan naik bus pulang dari kantor produser musik, itu mirip dengan Sari (Tara Basro) yang naik bus di A Copy of My Mind. Adegan Rini sekeluarga makan bersama di satu meja mengingatkan saya pada adegan makan di Pintu Terlarang.

Majalah ‘Maya’ yang dibawa-bawa Pak Budiman. Ada yang bilang kalau MAYA adalah judul film Joko Anwar berikutnya. Pun Batara (Fachry Albar), yang cuma muncul sebentar di credit title, jangan-jangan dia adalah Gambir (Fachry Albar) di Pintu Terlarang? Kamu tercyduk, Fahry..

Dan bagi penggemar berat Joko Anwar, tentu akan bisa melihat lebih banyak ‘benang merah’ yang menghubungkan film-film Joko Anwar hingga membentuk satu semesta tersendiri: Semesta Joko Anwar (mirip-mirip sama DC Universe pun Marvel Universe, lah, ya).

Tapi terlepas dari itu semua, ada satu hal dari Pengabdi Setan yang membekas sekali di benak saya: kutipannya yang nggak penting-penting amat. “Karena terlalu dekat, kami tidak pacaran.” WHAATT??? Kalau memang sudah dekat, ya cepetan dipacarin, Budimaannn??!!

Syebell..

Related posts

Leave a Reply