Viral “mocin” roda tiga, bagaimana kabar ESEMKA?

Beberapa hari kemarin lagi viral netizen ngomongin mobtor dari Cina. Iya, Mobtor alias desain dan interior hampir mirip mobil, tapi mirip motor roda tiga. Banyak yang penasaran dengan keberadaannya, bahkan banyak yang tak segan-segan segera meminangnya jika memang ada di Indonesia. Ih, main pinang aja…., belom juga kenal. Emang situ serius sama saya…??! Eh….

Mocin roda tiga ini jadi buah bibir para netizan karena bentuknya yang lucu dan unik, selain itu kendaraan ini dianggap bisa menggantikan fungsi mobil bagi mereka yang berdana cekak. Meski saat ini pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan produksi mobi LCGC (Low Cost Green Car), namun nyatanya Low Cost ini tidak sejalan beriringan dengan low Budget dari kebanyakan masyarakat, sehingga sebagian besar kita, untuk memiliki sebuah mobil masih terlihat begitu jauh, sejauh perjalanan Kal El kecil menuju ke Bumi.

Makanya, kehadiran “mocin” roda tiga ini bagaikan sebuah “kode” yang di berikan kepada calon gebetan yang sudah bertahun menjomblo. Padahal sejatinya kita lupa, kita punya ESEMKA.  ” ESEMKA”?  kalo dulu mungkin langsung kebayang sekolah kejuruan/SMK. Namun empat tahun terakhir kata ESEMKA jadi identik dengan kendaraan, disaat mendengar kata ESEMKA langsung otak kita menuju ke Mobil Nasional, yang katanya karya anak bangsa. Kok katanya? Bukankah benar-benar karya anak bangsa? Nah, kesan inilah yang juga melekat pada kata ESEMKA, selain karya mobilnya, sebagian besar kita masih memperdebatkan mobil ini bukan murni karya anak bangsa. Menurut mu?

Sementara kita singkirkan pertannyaan menyesatkan ini, saya mencoba fokus ke hal lain. Saya ajak anda untuk mengingat kembali keberadaannya. Dimana ESEMKA sekarang? Saya pun juga sempat kaget dan tersadar…., oh ya…, bagaimana kabar ESEMKA sekarang? Setelah euforia yang sempat membangkitkan kembali rasa patriotisme kita, kebanggaan kita terhadap tanah air empat tahun kemarin. Masih melekat di ingatan saya, bagaimana ESEMKA ini begitu menarik perhatian, karena keberhasilan anak-anak bangsa untuk merakitnya,bahkan didaulat menjadi kendaraan dinas oleh orang nomor satu di kota Solo (ironisnya, ditinggalkan begitu saja setelah menjadi orang nomor satu di Ibu kota dan berlanjut di Indonesia) Lepas dari urusan politik ya…, karena saya bukan orang politik, dan Alhamdulillah tidak tertarik untuk membahasnya. Saya masih ingat juga perjuangan ESEMKA ini dalam mendapatkan sertifikasi laik jalan, uji emisi, bahkan sampai uji “komisi” untuk kendaraan ESEMKA produksi pertama.

Hasilnya? Lolos uji type (yang berarti legal secara hukum dengan bentuk seperti itu, yang berati juga mematahkan banyak nyinyiran “menjiplak” yang dialamatkan kepada ESEMKA), Sempat gagal di uji emisi (Karena berat yang tidak proporsional) namun lolos juga di pengujian kedua (bukti bahwa ESEMKA mau belajar menjadi lebih baik), hingga akhirnya siap untuk di produksi dan dipasarkan. Kran indent pun sudah dibuka pada 10 November  dua tahun yang lalu. Namun ternyata euforia itu hanya sesaat,perlahan dukungan semakin memudar, peminat Kendaraan nasional ini pun berangsur-angsur berkurang dan hilang… #speechless

Sekali lagi ESEMKA membuktikan keseriusannya untuk “belajar”, lewat tangan dingin dari Bp. Sulistyo Rebono sebagai CEO / Direktur Utama (Dirut) ESEMKA memulai lagi perjalanannya untuk menuju kajayaan.

Proses panjang dan berliku dilalui, kendala datang tidak hanya dari segi tehnis, semisal desain, part, ketersediaan mesin, dan sebagainya. Tapi juga non tehnis yang ternyata juga dirasa sangat berat, seperti ikut campurnya “tangan-tangan” asing yang tidak mau usahanya diganggu. Bapak dari 3 putra ini seakan tidak pernah “mati” semangatnya untuk mengabdi lewat caranya sendiri. “ini proses panjang, saat ini baru menanamkan pondasi dasar, kelak yang meneruskan anak anak muda indonesia ketika kami udah lelah dan pensiun.” Inilah kata-kata beliau yang saya artikan sebagai pengabdian dengan caranya. Bahkan tanpa dukungan dari pemerintah pun, ESEMKA tetap jalan,padahal industri otomotif ini bukanlah industri berbiaya kecil. Pernah suatu ketika Bapak asli SOLO ini nyeletuk dengan gaya bahasanya yang “biasa” dan slengehan ini : “kalau ESEMKA terima 1 rupiah saja bantuan dari pemerintah..silahkan gantung NANAS di monas” atas ketidak berpihakannya pemerintah pusat terhadap industri otomotif nasional. Bayangkan, dari 1 unit kendaraan ini ada lebih dari 1000 macam part yang harus di produksi dan terjaga ketersediaannya.

Tapi itulah hebatnya ESEMKA, kelemahan dijadikan kekuatan, dengan dana yang seadanya ESEMKA semakin merekatkan hubungan kerjasama dengan hampir seluruh UKM yang ada di Indonesia. UKM Indonesia menurut Sulistyo Rebono hebat,Industri militan dengan semangat membangun Indonesia versi UKM dan industri kecil rumahan namun berkwalitas adalah modal mereka dan ESEMKA untuk membuktikan bahwa Indonesia Bisa !!

Finaly, pohon yang di tanam dan di rawat dari kecilpun mulai kelihatan buah manisnya. Hasil jerihpayahpun berbuah manis, loby untuk kerjasama dengan raksasa otomotif dunia pun bersambut, Alhasil disematkanlah engine 1.600cc hasil kerjasama dengan Mitsubishi di type kendaraan terbaru ESEMKA. Kenapa harus kerjasama? Semata hanya untuk (sekali lagi) menekan biaya riset dan  produksi, mengingat “Jantung” dari kendaraan inilah yang memakan biaya paling besar. Lalu apakah berarti ESEMKA belum bisa bikin mesin sendiri? Tidak..! ESEMKA Bisa! Saat ini ESEMKA sudah berhasil membuat mesin sendiri berkapasitas 1500cc, bahkan hasil produksinyapun sudah mencapai 1000 unit, yang rencananya untuk digunakan pada type pickupdengan kapasitas angkut sampai 1 Ton, sehingga sangat ideal untuk angkutan pedesaan.

Type terbaru dari mobil ESEMKA ini pun diberi nama RAJAWALI R2. Kenapa masih memakai nama RAJAWALI? Karena selain memang masih 1 type dengan RAJAWALI keluaran tahun pertama (SUV), menurut Sulistyo Rebono RAJAWALI mempunyai makna tersendiri, “rajawali adalah simbol kemerdekaan, terbang dengan bebas tanpa belenggu” Ungkapnya.

Seri Rajawali R2, menawarkan lebih dari yang anda bayangkan dari sekedar motor roda tiga. Foto diambil dari akun facebook esemka.id : https://www.facebook.com/Esemka.Id/

Lalu apa perubahan yang membanggakan dari RAJAWALI R2 ini dari sebelumnya selain engine “rasa” Mitsubishi? Banyak…, bisa dibilang “Totaly new” malah, desain body benar-benar baru namun tetap menggunakan plat kwalitas terbaik standart mobil-mobil keluaran Jepang yaitu  0,7 – 0,8MM sisi keamanannya pun sangat diperhatikan dengan menyematkan Air Bag dua titik di bagian kemudi dan penumpang depan, Sistem rem anti terkunci atau anti-lock braking sistem (ABS), serta EBD  (Electronic brakeforce distribution) benar-benar citarasa SUV namun seharga low MPV sekelas Xenia!! Hebatnya lagi RAJAWALI R2 ini tidak harus mengulangi kegagalan yang kedua kalinya dalam uji emisi, seperti halnya RAJAWALI keluaran pertama. Serangkaian uji coba, tes ketahanan dll dilalui dengan lancar, uji emisi pun berhasil mendapatkan raport yang diatas rata-rata. Bahkan untuk prototype sebagai keperluan tes dan pengujian, kendaraan hasil produksi PT. SOLO MANUFAKTUR KREASI ini tidak tanggung-tanggung memproduksi 20 unit ESEMKA RAJAWALI R2, sebelum benar-benar siap dilepas kepasaran.

1 hal yang paling membanggakan buat saya, dan mungkin masyarakat Tulungagung lainnya (kebetulan Tulungagung adalah kota kelahiran saya) adalah RAJAWALI R2 pun juga tidak luput dari tangan-tangan kreatif UKM Tulungagung. Dengan seleksi yang ketat dan pengawasan mutu yang tinggi, UKM Tulungagung dipercaya untuk memproduksi semua Jok mobil RAJAWALI R2 dari depan sampai belakang. Tentu ini bukan perkara mudah, karena jok merupakan salah satu elemen terpenting demi menunjang kenyamanan dan keamanan berkendara.Tidak hanya itu, interor pintu dengan menambah aksen logam dan kulit sintetis pada panel pintu dalam pun juga tak luput dari sentuhan UKM-UKM di Tulungagung. Benar-benar membanggakan!!

Bagaimana dengan UKM lain di luar kota Tulungagung? Banyak sekali UKM-UKM daerah yang terlibat dalam proyek pembangunan Mobil Indonesia ini, bahkan satu persatu jaringan bengkel resmi di beberapa titik perakitan,perawatan dan penjualan pun mulai didirikan, seperti Kediri,Tasikmalaya, Wonogiri, Pati, Yogyakarta, Solo, Semarang, Malang, Bandar Lampung, Medan , Padang, Surabaya, Denpasar,Ambon , Jakarta, Jombang,dan akan terus berkembang ke kota-kota lain di seluruh Indonesia. Dengan begitu bisa ditarik kesimpulan bahwa Bengkel resmi, suku cadang dan purnajual yang selama ini menjadi pertimbangan penting dalam membeli sebuah kendaraan terjawab sudah oleh ESEMKA.

Ahh….., seperti biasa, saya selalu kesulitan menutup tulisan yang saya buat. Khususnya buat ESEMKA ini, rasanya tidak cukup sampai disini kontribusi saya, masih jauh dari kata cukup. Dibandingkan dengan Sulistyo Rebono dan teman-teman yang ada di ESEMKA, saya benar-benar tidak ada apa-apanya. “ iki kan cuma wong nekat wae mas, esemka iki kan kumpulan wong gendeng ha ha ha ” canda beliau berusaha membesarkan hati saya.  Ditambahkan lagi “wong duwe gawe wae,,, buth tukang wedang.. among tamu .. tukang rias dll, mana bisa kerja sendiri?” Usaha sekecil apapun akan sangat berarti bagi kemandirian bangsa. Tidak bisa bikin mobil, kenapa nggak coba mendukungnya? Tidak bisa mengajak bersama, kenapa nggak dari diri sendiri dulu? Dimulai dari yang terkecil, dari yang terdekat, dari yang termudah, dan dari diri sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Mengutip dari kata-kata Bp. Sulistyo Rebono : “Untuk membanngun kemandirian usaha anda butuh super team , bukan superman ! Semakin solid team anda maka semakin tangguh lah kemandirian usaha anda!!”

 

-Salam-

Related posts

3 Thoughts to “Viral “mocin” roda tiga, bagaimana kabar ESEMKA?”

  1. Mobil esemka rajawali itu harganya kisaran berapa ya?
    Bodi luar nya kayak inova sih klo saya perhatikan.

    1. Justru lebih ke SUV gan, kayak Terios / Rush.
      Harga kisaran 100jt an.

Leave a Reply