Hari ini masih sama dengan hari-hari di tahun-tahun kemarin. 25 Desember, bagi saya yang tidak merayakan, hanyalah layaknya hari-hari biasa. Memang sedikit beda dengan hari-hari biasa, banyak ornamen-ornamen berupa pohon cemara yang berhias lampu lengkap dengan bola-bola kristal hampir dengan mudah di temui di setiap sudut keramaian kota, bahkan di beberapa titik tertentu menyediakan hiburan plus-plus.

Plus Rusa penarik kereta, Plus Santa berbaju merah, Plus beberapa kado special, dan Plus-plus yang lain. Meski di media mainstream dan timeline media sosial akhir-akhir ini sering muncul berita tentang isu SARA yang hampir ga ada habisnya, hingga perayaan 25 Desember saat ini pun sudah mirip demo yang musti dikawal aparat keamanan dengan begitu ketatnya.

25 Desember kali ini yang kebetulan pas hari minggu, layaknya orang-orang yang kekinian, saya juga menghabiskan siang jelang sore ini untuk jalan-jalan ke salah satu mall di kota Malang bareng istri. Pilihan jatuh ke Lippo Plaza Malang, yang masyarakat umum udah begitu mengenalnya dengan nama Matos (Malang Town Square).

Niat hati kepingin nyari paket data yang bisa mendukung aktifitas saya yang ga bisa jauh-jauh dari jaringan internet, sorry kaga nyebut merk yang akhirnya saya pinang, maklum kaga di endorse, padahal website ini setiap harinya di baca oleh ribuan …………. makhluk halus… 😀

Begitu padatnya pengunjung siang itu, bikin perut jadi laper. Dengan senang hati kita pun mampir dulu di food court yang……. bujuuuggg….., ramenya udah kaya karnapal kampung…! Musti jalan dari ujung ke ujung untuk mencari tempat duduk kosong, bahkan sesekali berebut tempat dengan pengunjung lain.

Finally, we found one empty table! Satu meja yang saya dapet, berhimpitan dengan meja pengunjung lain. mereka 1 keluarga dengan 4 orang anak yang udah cukup gede-gede, jadi total ada 6 orang dalam satu meja yang idealnya hanya untuk ber 2-3.

Sembari menunggu makanan diantar, sesekali saya melirik ke keluarga tersebut, sesekali juga saya melihat sang kepala keluarga memandang ke kami dengan wajah seakan ingin mengucap “mas, boleh saya pake mejanya?!”. Diposisi ini , sunggu saya menjadi kurang nyaman, beberapa kali saya juga tengak-tengok untuk cari tempat kosong lain dan memberikan meja kami ke keluarga ini.

Hingga makanan yang kami pesan datang, rasa ga nyaman masih begitu mengganggu. Hingga akhirnya saya bilang ke istri saya “sharing meja yuk“, dan istri pun meng”iya“kan. Saya pun bilang ke rombongan keluarga tadi, untuk bergabung dengan kami, meja yang kami tempati, kami geser hingga menjadi satu dengan meja mereka.

Jujur, awalnya justru saya yang ragu untuk menawarkan sharing meja. Takut…., takut untuk justru di tolak. Apalagi dengan tatapan mata sang kepala keluarga. Mereka adalah keluarga yang sedang merayakan Natal, keluarga yang berasal dari Bali. Melihat istri saya yang berhijab panjang dan saya yang berjenggot ini, saya justru takut untuk menawarkan bergabung. Justru sekarang kita sesekali terlibat percakapan yang hangat, cerita dan bercanda tanpa menyinggung hal pribadi.

Ah, untunglah…. Indonesia masih damai kok…

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here