18 November selalu menjadi hari yang istimewa bagi saya pribadi, pasalnya tepat di tanggal itu saya berucap sumpah di depan penghulu untuk meminang bidadari dari Ngronggo – Kediri. Hari dan tanggal yang begitu melekat di hati saya. Entahlah, wong ya saya bukan dukun, juga ga begitu ngreken dengan para sesepuh yang memilihkan tanggal kapan saya bisa melaksanakan akad nikah, tapi ya kersane Gusti, tanggal 18 November juga bertepatan dengan hari bersejarah dengan kota kelahiran saya. Iya, tepat tanggal 18 November juga, Tulungagung yang menjadi kota kelahiran saya merayakan ulang tahunnya.

tulungagung

Tahun ini, usia Tulungagung menginjak ke 811 tahun. Usia yang jika secara numerik, secara hitung berhitung adalah usia yang sudah cukup untuk masuk di dalam “museum”. Namun di usia ini juga saya masih merasakan Tulungagung yang “kecil”, Tulungagung yang bahkan dibagian lain di Indonesia masih belum tahu….

Tidak perlu jauh-jauh untuk mencoba kedigdayaan Tulungagung, bahkan di sebagian kota di pulau jawa pun masih sering mengerutkan dahi jika saya mengenalkan diri dari Tulungagung. Helowww….., please dech…., Tulungagung sudah aja sejak 811 tahun silam lho…. 811 tahun itu kalo di tarik mundur adalah masuk zaman kekaisaran, pada tahun itu (berarti sekitar tahun 1205) adalah kelahiran dari Kaisar Dinasti Song bernama Zhao Yun. Ok, berhenti disini, dari pada tambah ga ngerti sama sekali. Intinya……, di jaman itu Tulungagung sudah berdiri.

Lalu bagaimana dengan Tulungagung saat ini, menurut hasil survei yang (duh, jadi ketularan APJJI, suka bikin survey) saya kumpulkan dari tanggal 30 April 2015 kemarin, merunut update status @tulungagungsparkling dengan pertannyaan tentang bagaimana kinerja kepala daerah selama 3 tahun, hampir 74% menjawab tidak puas, banyak celoteh-celoteh bernada nyinyir tentang pembangunan Tulungagung, “Coba saja kalo tulungagung sudah berani menggunakan e government, transparansi Dari pemerintah daerah masih kurang.” Celoteh pemilik akun @andikamaf, ada juga yang mengeluh tentang pekerjaan seperti : “Penyerapan tenaga kerja yg saya rasa kurang min. Anak2 yg selesai pendidikan banyak yg milih kerja diluar kota karena minimnya lapangan pekerjaan yg tersedia” Kata @dendy_tungka.

ngrowo
Ngrowo waterfront Tulungagung

Jujur, secara pribadi saya juga masih terus berharap Tulungagung bisa lebih baik, bebas dari politik kepentingan. Contoh sederhana adalah pergantian moto Tulungagung dari “Guyub Rukun” menjadi “Ayem tentrem, Mulyo lan Tinoto”. Meski tidak ada salahnya untuk setiap kota merubah tagline, namun saya merasa ini sedikit di paksakan. Pertama, dari tata bahasa yang tidak sesuai ejaan yang benar, menurut pak. Budi, seorang sastrawan Tulungagung, harusnya ejaan yang benar adalah :”Ayem Tentrem, Mulya lan Tinata”. Kedua, dari situ saya mencium bau narsis yang akhirnya berujung keterpaksaan ini. Narsis…? Dari siapa..?? you know laahhhh…..

Eh, tapi kan bentar lagi Tulungagung bakalan punya bandara, bangga dong…??!
Iyaaa….., siapa sih yang bilang ga bangga dengan Tulungagung itu…?? Eh, tapi ngomongin tentang Bandara…., buat kamu yang mengikuti perkembangan berita mengenai bandara ini dari awal, harusnya tau siapa sebenarnya inisiator dan pendorong dari proyek Bandara ini. Yahh…., semoga saja tidak menjadi jualan politik untuk maju dua periode.

Di bidang olahraga otomotif, saat ini Tulungagung juga patut untuk diacungi jempol, beberapa tahun terakhir banyak kegiatan otomotif yang diselenggarakan di Tulungagung, saat ini pun Tulungagung juga sudah memiliki sirkuit berstandart nasional. Sayang, hal tersebut masih belum diiringi dengan knowledge yang baik dari semua lapisan masyarakat. Terakhir, salah satu pembalap perempuan asli Tulungagung terpaksa harus meninggal dunia dengan cukup mengenaskan, dia adalah Rizka Fionita, perempuan asli Tulungagung kelahiran 26 Juni  1997 ini meninggal dunia saat melakukan ujicoba kendaraan untuk balap. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada almarhum, saya menyayangkan perilaku (bahkan untuk seorang pembalap) menyepelekan keselamatan diri.

rizka-fionita
Foto Alm. Rizka Fionita

Duhhh….., jadi ngelantur kemana-mana kan ya…. OK, disini, disalah satu sisi desa yang cukup terpencil di Tulungagung, Desa bernama Picisan, desa paling ujung dari Kecamatan Sendang, Tulungagung, saya bareng temen-temen relawan bersama anak-anak desa Picisan merayakan ulang tahun Tulungagung dengan cara yang berbeda, membaca dan bersenang_senang dengan Buku. Dan disini juga saya mengucapkan selamat ulang tahun Tulungagung, yang ke 811. Jayalah Tulungagung, Jayalah Indonesia…!!

Salam.

picisan-membaca
Hadiah ulang tahun untuk Tulungagung yang ke 811, membaca bersama anak-anak Picisan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here