foto by boobrok.com

Tucuxi, Pemilihan brand yang “buruk” saya rasa. Orang Indonesia akan sangat sukar untuk mengingatnya, bahkan membacanya saja susah, takusi, taksuki, tucuki,….. Kayaknya sebagai orang jowo, lebih enak bilangnya tai kucing deh, lebih gampang di ingat dan bisa menjadi strategi branding yang bagus…!!

Yang bikin saya heran, kenapa setiap ada kesempatan untuk menciptakan sebuah karya, orang yang mendapatkan kesempatan tersebut seakan mendadak bisa tahu dan melakukan semuanya? Bukannya bikin tim yang berisikan dari semua bidang keilmuan yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Kan bikin mobil nggak bisa dari satu bidang keilmuan aja, engineering aja misalnya, body, chassis, drivetrain, electrical, suspension, desain interior,belum lagi dukungan marketing, sosiologi, psikologi….

Takut pendapatannya berkurang?, hingga akhirnya untuk masalah interior diserahkan ke istrinya sendiri (bisa di bayangkan mobil sport yang katanya sekelas Ferari, interiornya selera ibu-ibu rumah tangga)?

Masih mengenai perwujudan Tucuxi ini, kenapa sih harus di sama-samain dengan Ferrari? Udah tau juga kalo Ferrari basicnya Supercar, sedangkan Mobil Listrik Tucuxi sampai sekarang pun saya masih belum bisa mendefinisikan kendaraan ini masuk segmen apa. Whellbase sangat tinggi,jelas akan menghambat “lari” dari kendaraan ini, malah ada temen yang bilang setara dengan “full size sedan”, cuman tempat duduknya aja yang dua biji, membuat semakin absurd. Satu-satunya yang tampak sama dengan Ferrari hanyalah warnanya yang kebetulan merah. Kalo emang mau bikin owner Ferrari jealous, it’s still far faaaar awaaayyyy….. Masalahnya ini membawa nama MOBIL NASIONAL, jadi kebawa emosi satu bangsa.

Sekarang beralih ke alur produksinya. Di Indonesia ini gampang banget bikin MOBNAS ternyata. Sejauh pengamatan saya, proses lahirnya Tucuxi ini sangat cepat. (Sekali lagi hanya sebatas pengamatan saya) Hanya perlu Pengorder (Pembeli, bukan pemodal) yang dalam hal ini di perankan oleh pak DI, Pembuat mesin atau engineering sekaligus Suplier mesin (karena emang katanya beli dari USA) yaitu pak Danet, serta pembuat desain bodynya yang dipercayakan kepada kupu-kupu malam. Sudah, selesai….!!! Segampang itu, tanpa ada proses styling, developing body, interior,Prototyping, Analizing, dan masih banyak lagi alur-alur yang harus di tempuh, sehingga benar-benar menghasilkan produk yang matang

Finally….. Setelah menabrak akidah-akidah yang ada, (kalo pak mentri yang mau nggk ada yang bisa ngelarang.) bahkan akidah agamapun di tabrak ( dengan melakukan prosesi tolak bala pada Tucuxi ini, yang (maaf) bagi saya umat muslim adalah musrik,) sampai akhirnya menabrak tiang listrik…!! Banyak Spekulasi yang bermunculan, bahkan ada yang menyangkutkan dengan dunia politik. Tapi karena saya nggak suka politik, saya mengesampingkan wacana itu. Saya hanya melihat dari sisi umum sebagai pengamat otomotif nasional. Tidak ada yang salah dengan kejadian tabrakan ini, karena produk ini adalah produk Prototype atau purwa rupa, bahkan masih show car prototype, confiedentional , yang harusnya hanya di peruntukan sebagai show car saja fugsinya sehingga kita bisa tau…bagaimana antusias masyarakat/calon customer, jadi masih banyak yang belum diketahui dari mobil ini, perlu analisa yang lebih jauh, mulai dari RAW materials,design, manufacturing process semuanya harus benar-benar di lalui oleh ahlinya, juga fasilitas pendukung yang memadai tentunya, test ridenya pun harus di sirkuit, bukan di jalan raya, yang saya tahu di tempat kejadian tersebut memang jalannya berliku dan naik turun, apalagi Mobil Listrik!

Baca juga : Bantengan sebanyak 1.698 “Nglurug” Kota Batu

Soal rem yang blong pun saya masih belum mengerti,mesin listrik ini seperti apa. Yang saya tau elektrik tidak ada engine brake, masalah mengoperasikan rem convensional di mesin listrik…rem convensional itu..kalo di mobil combution engine, menggunakan ke vacumman mesin untuk bantu booster rem agar kaki nggak terlalu kerja keras untuk menginjak pedal remmnya, nah kalo di mobil listrik dia ngambil vacumm dari mana?? Kecuali mungkin Tucuxi ini sudah mengadopsi tehnologi dari mobil listrik TESLA Model S dengan one pedale system, yaitu tehnoligi dimana hanya memerlukan 1 pedal untuk mengoperasikan daya dorong (gas) mobil ini, sehingga hanya perlu mengendorkan sedikit injakan pedal gas untuk mengerem laju kendaraan. Nah, sejauh ini saya hanya bisa menyimpulkan jika rem di Tucuxi ini konvensional..maka, kecelakan ini saya rasa bukan karena remnya yang blong.. tapi memang kaki pengendara tidak terlalu kuat untuk menginjak rem yg mestinya di bantu sama vacum engine di mesin konvensional.

Jika kabar terakhir mengatakan karena tidak adanya gearbox di mobil Tucuxi ini saya rasa hanya alasan saja, kenapa? Karena justru hampir semua kendaraan listrik yang beredar di dunia tidak menggunakan gerabox, alasan simplenya : Mobil listrik masih terkendala dengan daya tahan batrey, sehingga membatasi jarak tempuh kendaraan ini dan akhirnya (selain modelnya yang akhirnya kebanyakan city car) mobil listrik memang di desain untuk perjalanan jarak dekat (rumah ke kantor, rumah ke pasar, dll) bukan untuk perjalanan jauh yang medannya cukup ekstrem.

Melihat dari rusaknya mobil Tucuxi ini yang sangat parah, ini juga menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi saya. “Bagaimana Pak DI dan staffnya tidak terluka sama sekali? Padahal windshieldnya sampai nggak keliatan,Tidak terlihat adanya bekas airbag yang terbuka, tekstur pecahan bodynya pun tidak seperti serat karbon. Lebih aneh lagi, katanya kecepatan waktu itu hanya di kisaran 60-80Km/jam. Dengan crumplezone yang hampir nihil dan pilar A yang lebih rendah dari jok, Kaca depan yang sekaligus sebagai panoramic roof nyaris tak tersisa,seharusnya dengan kondisi mobil seperti itu, pengendara akan terluka parah.Apakah ini hanya rekaan yang bertujuan untuk pengalihan isu dan atau pencitraan?

Sekali lagi maaf, saya bukan orang yang berkompeten di bidan politik, jadi ya wawlahu’alam….

Kasus yang berkembang sekarangpun jadi semakin aneh, dan melibatkan banyak kalangan, mulai dari pejabat,praktisi hukum, polisi dan bahkan bapak SBY pun tak mau tinggal diam. Yang mau saya bahas di sini adalah tentang terseretnya pak DI ke ranah hukum tentang pelanggaran lalulintas. Kenapa? Kenapa kok baru sekarang maksudnya…, kenapa kok harus nunggu ada kejadian ini? Dan baru hari kemarin di beritakan “Plat yang di Tucuxi pak DI dipastikan palsu dan di pesan di pinggir jalan”. Lhah, bukanya udah jelas-jelas dari awal ketahuan palsu? Mana ada nopol dengan kode DI 19? Daerah mana DI itu? Ya emang nggak ada…., anyway…, di negara kitapun sampai saat ini belum ada payung hukum atau peraturan tentang kendaraan listrik, Seperti halnya motor listrik, Tucuxi pun juga masih belum bisa di buatkan surat-suratnya, apalagi “aksesoris yang menyerupai plat nomor” kendaraan. Jadi seharusnya polisi sudah mengatisipasinya dari awal mobil ini diluncurkan.


Saya juga sedikit menyayangkan pihak media yang terlalu mengekspos dari awal-awal pembuatan, nggak ada salahnya sih kita “bangga” dengan mobil listrik sport pertama buatan local, tetapi ingat ini msh show car prototype, belum Engineering Prototype yang harus melewati serangkaian pengujian guna membuktikan apakah perhitungan engineering design dan analisis nya sesuai dengan yang di produksi…. ini memerlukan waktu cukup lama bisa mencapai 1-2 tahun. Jangan terburu-buru……

Dari sini, tidak ada yang perlu disesalkan atas kejadian yang sudah berlalu. Saya juga tidak mau menghakimi siapa yang salah dan siapa yang benar.

Kita ambil nilai positifnya saja, minimal kita sebagai masyarakat yang awam jadi sedikit banyak tahu dan bisa menjadikan / menumbuhkan budaya produksi yang benar, Untuk melancarkan lahirnya harapan yang besar, mobnas hendaknya dibangun dengan cara-cara yang accountable dan proven ,ini supaya tidak memberi image bahwa mobnas terlihat tidak bisa lebih baik dari mobil-mobil asing yang sudah ada saat ini. semoga saja kejadian ini hanya untuk kebaikan di masa depan bagi bangsa ini.

Ayo, maju terus industri otomotif indonesia!

6 KOMENTAR

  1. “….bayangkan mobil sport yang katanya sekelas Ferari, interiornya selera ibu-ibu rumah tangga…” Lhe, ngawur ae. Kalo ibu rumah tangganya titisan coco channel yo gahar, Mas. Ea ea ea

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here