Sore kemarin (26 Maret 2014) suasana kota Batu sedikit berbeda, suasana mistis semakin terasa seiring berjalannya waktu menuju malam. Pun demikian, masyarakat kota Batu dan sekitarnya justru semakin banyak berdatangan ke stadion Brantas, seakan tidak mau ketinggalan untuk menjadi salah satu saksi sejarah terpecahkannya rekor BANTENGAN TERBESAR yang diselengarakan Pemkot Kota Batu.

Event ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, setelah hari sabtu (1 Maret 2014) sebelumnya juga diselengarakan event yang sama dengan melibatkan ribuan peserta. Namun kali ini lebih megah dan lebih banyak, yaitu dengan 1.698 BANTENGAN KOLOSAL untuk mengejar rekor MURI dengan jumlah BANTENGAN terbanyak.
Disetiap pementasan Bantengan, tak pernah lepas juga dari sosok Macanan. Dikisahkan Macanan ini lah musuh bebuyutan yang suka membuat kerusuhan.


Sejarah BANTENGAN

bantengan

Seperti halnya di daerah lain di seluruh Nusantara, kesenian tradisional adalah salah satu bentuk identitas dari daerah yang bersangkutan. Begitu juga halnya dengan Bantengan, meskipun sampai sekarang belum ada kajian ilmiah yang mengutkan tentang awal mula lahirnya seni tari Bantengan ini. Namun yang pasti , Kesenian yang lahir dari basis ilmu silat ini hanya ada di wilayah Malang raya, utamanya di Poncokusumo, Tumpang dan Kota Batu.

Namun ada juga pengakuan dari wilayah Celaket-Pacet kota Mojokerto perihal seni tari tradisional ini. Tak ketinggalan, kota di sekitar juga mengenal budaya Bantengan, seperti Kediri, Probolinggo dan Pasuruan, namun setiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri.Namun di tahun 2003, setelah kota Batu menjadi Kota Mandiri mengukuhkan bahwa seni tari Bantengan adalah kesenian yang berasal dari Kota Batu.

Sejak saat itu, Bantengan mulai menggeliat, banyak perkumpulan pemuda desa yang mendirikan kelompok Bantengan secara mandiri. Bahkan di tahun 2010 (berlanjut hingga saat ini) Masyarakat Penggiat Budaya Indonesia menggelar event International Trance Carnival yang bekerja sama dengan Seni Pertunjukan Keliling In The Art Island, yang menyertakan Bantengan sebagai salah satu agenda yang di pentaskan.


Apa itu BANTENGAN?

bantengan1

Bantengan, sesuai dengan namanya, adalah seni tari yang menggambarkan tingkah polah seekor banteng, mulai dengan gelengan kepala, langkahnya dan lain sebagainya. Sebelum memulai tari bantengan, para pemain akan mengadakan upacara di punden tempak diadakanya pertunjukan. Beranjak dari kesenian kampung, diharapkan Bantengan perlahan terangkat menjadi kesenian bangsa, dengan seringnya tampil di acara-acara nasional.

Adat budaya jawa yang masih kental dengan animisme dan dinamisme juga masih erat melekat di tarian Bantengan ini dengan banyaknya sesaji yang disediakan sebelum acara Bantengan dimulai. Ornamen-ornamen yang diperlukan cukup sederhana, diantaranya Tanduk asli (dari hewan Banteng atau Kerbau juga Sapi), yang dipadukan dengan kepala Banteng yang terbuat dari kayu (berat total bisa mencapai 20Kg), lalu dihiasi dengan Mahkota berupa sulur wayangan yang terbuat dari kulit atau kertas, dan sebuah Kelontong (lonceng yang disematkan di leher).

Badan Bantengan umunya hanya berupa kain hitam panjang, yang saat pertunjukan di mulai di isi dengan dua orang pendekar silat yang akan mengendalikan Bantengan, yaitu di bagian depan yang berperan sebagai kaki depan sekaligus pemegang kepala bantengan serta yang dibelakang berperan sebagai ekor Bantengan sekaligus pengontrol tari bantengan serta kaki belakang.

Kesenian Bantengan yang umumnya diselenggarakan secara sederhana dengan konsep karnaval, mencoba dirubah dengan lebih megah. Berbeda dengan acara-acara sebelumnya sekarang Bantengan lebih berkonsep entertaint, yakni menggelar pertunjukan seni Bantengan kolosal pada waktu malam hari bertempat di satu lokasi dan bukan dengan konsep karnaval yang selama ini diadakan. Dengan tata kreasi tari, panggung, musik, lighting dan souns system yang spektakuler, maka diharapkan masyarakat tidak menemukan titik jenuh untuk menikmati Bantengan ini.

Benar saja, malam itu tribun utama sudah dipadati penonton sejak pukul 18.00 padahal acara baru dimulai pukul 19.30. Acara dimulai dengan demonstrasi pencak silat di atas panggung seluas kurang lebih 10M yang di iringi musik tradisional yang didominasi kendang, angklung dan jidor. Berlanjut dengan Parade cemeti kolosal anak-anak (lebih dari 500 anak) yang rata-rata masih SD ini sedikit mengundang senyum, karena susah untuk diajak koordinasi, yahhh…, namanya juga masih anak-anak. Berlanjut, dengan Bantengan kolosal, yang juga dimainkan oleh anak-anak kecil yang berjumlah sekitar 328 bantengan,menyusul parade cemeti kolosal dewasa, dan yang paling ditunggu adalah Bantengan kolosal yang melibatkan lebih dari 1.698 Bantengan di seluruh Kota Batu dan Malang Raya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here