Gedung Utama BINUS @Malang yang sungguh eksotis
Gedung Utama BINUS @Malang yang sungguh eksotis

BINUS @Malang beberapa hari kemarin secara resmi telah di kenalkan ke publik, terutama warga Malang dan sekitarnya. Acara bertajuk “The Grand Launching Of BINUS @Malang” ini menurutku cukup sukses dan berkesan, bahkan dari empat hari berturut-turut (23-26 Oktober 2019) itu, hampir di semua acara punya kesan tersendiri buatku!

Nah, saking excited-nya dengan acara ini, aku mau sedikit berbagi cerita nih buat kalian semua. Kenapa aku perlu banget cerita disini, karena jujur aku baru nemu satu ini kampus yang sesuai banget dengan dunia yang 4 tahun terakhir ini aku gelutin, Digital!

Dari tagline-nya yang berbunyi “BINUS @Malang – Institute of Creative Technology” udah jelas donk kampus ini mengarah kemana, dan diperkuat lagi dengan acara Grand Launching kemarin yang mengusung semangat “Digital Technoprenur”.

Sedikit informasi nih tentang BINUS UNIVERSITY yang sebelumnya beroperasi pada bridging campus sejak tahun 2016. BINUS UNIVERSITY telah ada di berbagai kota di Indonesia seperti di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung dan Malang. Saat ini BINUS memiliki lebih dari 36.000 mahasiswa dari seluruh Indonesia dan lebih dari 130.000 alumni yang tersebar diseluruh dunia.

Ok, di hari pertama, aku langsung dibuat melongo dengan gaya arsitektur bangunannya, sumpah keren..!! Gaya arsitektur out of the box ini kata pak Stephen Wahyudi Santoso, BSE, MSIST selaku President of BINUS Higher Education terinspirasi dari candi tikus yang ada di Mojokerto, tapi kalo kata ku ini lebih mengingatkanku tentang film Batman, dark sekaligus elegant!

Ngomongin soal Batman, tau kan salah satu villain abadinya, Two-Face! Nah, Gedung BINUS @Malang ini ternyata juga punya dua muka yang berbeda, he he he…. Seriusan, kalo kamu liat dari belakang, Gedung ini terlihat beda banget dengan tampak depannya, awesome!

Puas menikmati arsitektur depannya, sekarang coba masuk deh kedalemannya. BINUS sadar banget, sebagai institusi pendidikan bagi generasi muda, tentunya menjamin dan menjaga kualitas Pendidikan serta memiliki tanggung jawab yang besar dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya berkualitas secara akademis namun juga mampu dalam memberdayakan  masyarakat dan kontribusi membangun nusantara.

Nah, ini didukung banget dengan sarana dan prasarana yang ada di dalam gedung kampus BINUS @Malang ini, super lengkap dan nyaman! Bahkan kampus yang berlokasi di Green Boulevard No. 1 Araya, Purwodadi, Kec. Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur ini juga dilengkapi dengan dua buah ruangan untuk Coworking Space, bisa digunakan untuk kolaborasi dengan perusahaan lain, crowd funding, pitching antara mahasiswa dengan perusahaan mitra. Sayang banget ngga bisa untuk umum ya, jadi buat kamu yang punya startup tapi ngga kuliah disini, terpaksa ngga bisa ngerasain serunya ruangan ini.

BINUS sadar banget, menghadapi perkembangan dunia pendidikan yang cepat dan terus mengalami perubahan, terlebih pada era disrupsi inovasi dan industri 4.0, bukan lagi menjadi tanggung jawab utama pemerintah dalam mempersiapkan hal tersebut. Institusi Pendidikan harus mampu beradaptasi dan memberikan peran dalam membangun ekosistem yang bersinergi di era kini. Oleh karenanya BINUS @Malang hadir sebagai Digital Technopreneur Center yang akan menyatukan ekosistem untuk mendorong pertumbuhan Digital, Technology dan Entrepreneurship di Jawa Timur dan Indonesia bagian timur.

Kenapa BINUS @Malang fokus di Jawa Timur dan Indonesia bagian timur? Nah, dalam acara Media Talk yang bertema “Kontrisbusi Untuk Indonesia Timur Melalui Pengembangan Digital Technopreneur Center di BINUS @Malang” yang langsung di hadiri oleh founding father BINUS @malang yaitu : Stephen Wahyudi Santoso, BSE, MSIST selaku President of BINUS Higher Education; George Wijaya Hadipoespito, M.Sc, MBA selaku Vice President of BINUS Higher Education; Dr. Ir. Boto Simatupang, MBP selaku Rektor BINUS @Malang; serta Judi Arto selaku Marketing Director BINUS Group.

Dalam acara tersebut, Bapak Stephen mengemukakan perkembangan serta rencana ke depan terutama ekspansi untuk membina dan memberdayakan masyarakat khususnya di wilayah Indonesia Timur, selain itu, Beliau juga menjelaskan Unifikasi BINUS UNIVERSITY sebagai kesatuan, walaupun BINUS memiliki banyak kampus bahkan di luar daerah, namun standarisasi akademik dan operasional akan sama.

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Boto juga menyampaikan pentingnya literasi digital serta mempersiapkan SDM unggul dalam hal kewirausahaan berbasis teknologi digital yang menjadi keunggulan dari Digital Technopreneur BINUS @Malang. Selain itu BINUS @Malang memiliki program 2+1+1 dengan berkuliah selama 2 tahun di kampus asal, 1 tahun kuliah di BINUS @Jakarta atau BINUS@Bandung serta 1 tahun mengambil salah satu program enrichment dari 5 jalur yang disediakan ( Internship (company/industry), Research, Community Development, Start-Up Business, Study Abroad (kuliah di University partner di luar negeri). ). Program ini akan membentuk mahasiswa untuk memiliki softskil dan hardskill yang berimbang sehingga siap menghadapi persaingan global.

Well, dihari pertama ini udah cukup banget rasanya buat lebih kenal dengan BINUS. So, lanjut di hari kedua, aku akan sedikit menceritakan tentang Ilmu-ilmu yang didapat saat menghadiri rangkaian seminar bertajuk “Digital Technopreneur Conference” yang digelar di Hall BINUS @Malang di hari kedua.

BINUS @Malang Kornelius Samuel - Product Engineer of GOJEK
BINUS @Malang Kornelius Samuel – Product Engineer of GOJEK menyampaikan materinya di sesi pertama seminar.

Yang dapet giliran di sesi pertama ada dari GOJEK, dengan membawakan tema “Digital Technology Entrepreneurship and Global Innovation” Gojek menghadirkan Adrianus Johan (Product Manager of GOJEK) serta Kornelius Samuel (Product Engineer of GOJEK) sebagai Speakernya.

Perusahaan yang awal berdirinya (2010) hanya berfokus pada two-wheeled transportation di Jakarta ini sadar, seiring berjalannya waktu, sebagai sebuah startup harus menjadi sebuah perusahaan yang Born To Provide Solutions. Artinya Gojek harus mampu menjawab tantangan dunia industri saat ini dengan memberikan berbagai solusi  yang diperlukan baik oleh mitra maupun partner.

Sehingga tidak heran jika di rentang 9 tahun berkarya Gojek berkembang dengan “super Apps.” Dari yang hanya punya 1 layanan (ojek) hingga saat ini sudah ada lebih dari 23 layanan. Apa aja? Udah ngga perlu di jelasin, buka aja langsung apps nya di HP kamu!

Artinya, rata-rata dalam satu tahun, perusahaan yang sudah beroperasi di lebih dari 204 kota di Indonesia ini harus menghasilkan 3 service baru yang saat itu dibutuhkan bagi masyarakat banyak! Asem tenan!

BINUS @Malang Igel Zibriel - VP of Area Business Development at Grab Indonesia
BINUS @Malang Igel Zibriel – VP of Area Business Development at Grab Indonesia yang lebih menekankan tentang Ecosystem sebuah perusahaan startup.

Itu tidak lepas dari yang namanya “Global Innovation” itu tadi. Nah beda lagi dengan Grab yang kebetulan menjadi pengisi sesi kedua. Disampaikan oleh Igel Zibriel (VP of Area Business Development at Grab Indonesia), Grab mengusung tema “The Emergence of a Digital Technology Entrepreneur Ecosystem

Ya, disini materi Igel Zibriel lebih menekankan tentang Ecosystem. Ekosistem yang dibangun dari perusahan yang pada 6 Maret 2019 kemarin mengukuhkan diri sebagai The first Decacorn Startup di Asia Tenggara ini adalah memperluas layanan Grab di berbagai bidang, meliputi pengiriman makanan, logistik, konten, pembayaran digital, kesehatan, dan layanan keuangan.

Ke depannya Grab ingin lebih banyak kolaborasi antara berbagai layanan lain dalam ekosisitem platform terbuka yang mereka kembangkan, hingga misi perusahaan sebagai penyedia layanan everyday super app terbesar di Asia Tenggara berhasil diwujudkan.

Where Digital Technology Meets Entrepreneurship in Creative Value” adalah materi ketiga yang dibawakan oleh Felix Yuwono – Lead Product Manager at Tokopedia. Creative Value yang diberikan oleh Tokopedia sebenarnya hampir mirip dengan apa yang juga dilakukan oleh Grab dan Gojek.

Yaitu Berusaha untuk membangun “Jembatan” dari semua pihak yang terkait, bukan untuk membangun “Tembok”. Hal ini diwujudkan dengan menyediakan 33 digital produk yang dibagi dalam 4 kategori utama. Yaitu :

  1. Simplify lives and easy to pay for untilities (tiket pesawat, pulsa, pln, air, tiket kereta,dll)
  2. Reaching the unbanked with financial solutions (OVO, emas, asuransi, kartu kredit, dll)
  3. Supporting government and public services (e-samsat, pajak PBB, BPJS, dll)
  4. Giving back to society (Donasi, Zakat), dll)

Dalam sesi tanya jawab, Felix Yuwono memberikan sedikit tips dalam memulai berbisnis dalam bidang apapun. “Mulai aja” adalah keywords nya, artinya apapun yang akan kita lakukan, mulai aja dulu, ngga harus langsung besar, jika usaha pertama gagal, kaji dan perbaiki, butuh effort yang tinggi memang, tapi itu akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan tahan lebih lama.

BINUS @Malang Felix Yuwono - Lead Product Manager at Tokopedia
BINUS @Malang Felix Yuwono – Lead Product Manager at Tokopedia

Benang merah yang bisa ditelusuri dari ketiga pemateri tadi, selain pentingnya sebuah startup untuk build bridges, not walls. Ketiga startup besar ini juga berusaha memberikan solusi dari masalah-masalah sosial yang ada. Dan itu sepertinya memang secara tidak kita sadari mempunyai “nilai jual” yang sangat tinggi.

So, Want to set up a startup business?  Solve the solution!

Sesi keempat! “The Challenges of Digital, Technology & Entrepreneurship in Emerging Markets” Ini materi yang cukup berat menurutku, apalagi hampir 80% pesertanya adalah dari anak-anak SMA. Tapi, ini justru yang paling menggembirakan buatku, finally!!

Udah ngga diragukan lagi public speaking skills dari Andy Budiman – CEO of KG Media ini, materinya mengalir dan enak untuk di ikuti, yang tadi-tadi sih lewaaaatttt………! Hi hi hi, maap yaaaa……

Tapi tentu ngga bisa semua aku tulis disini ya ( jujur karena tadi sempet ketinggalan materi, gara-gara kebelet pipis ☹ ) tapi bisa sedikit aku sampaikan bahwa berbicara tentang market, tentu akan berbicara tentang bentuk perusahaan kita, apa dan bagaimana perusahaan kita akan bertumbuh dan menentukan segmen pasar.

Ada satu peluang besar yang Andy Budiman optimis Indonesia bisa melakukannya, terutama di bidang Digital Technopreneur, yaitu bagaimana sebuah startup yang bisa tumbuh berkembang dan fokus di bidang “data”.

Big data! Sejak satu-dua tahun terakhir, banyak yang begitu antusias membicarakan terkait ini, bagaimana data akan menjadi tambang emas berikutnya menghasilkan uang. Meski faktanya masyarakat kita masih belum terlalu perduli dengan isu privasi.

Stop! Sebelum aku ngomongnya kemana-mana, masalah Big data ini kita bahan lain waktu ya. Kembali pada yang tadi disampaikan oleh Andy Budiman bahwa big data ini sangat penting, dan siapa perusahaan yang berhasil menguasai dan memonopolinya sampai saat ini? Yak, Google dan Facebook!

So, yang mau di sampaikan om Andy Budiman adalah, peluang untuk mengolah big data ini masih terbuka luas, selain growth-nya semakin besar, hampir semua perusahaan saat ini sangat membutuhkan.

Last but not least, ceritanya kroyokan nih, karena di sesi terakhir berjudul “We Speak Entrepreneurship” ini ternyata pematerinya banyak banget, ada 9 orang! Siapa aja mereka? Nih detailnya :

Kieandy Susanto (Co-Owner at PT. Indonesia Global Solusindo (ISGS))
Matius Kelvin (Co-Founder at Accelist Lentera Indonesia)
Lidya Dameycelina Rias (Founder at Booka.id)
Edy Budiman (Founder and CEO Dewaweb)
Arifa Tan (CEO PT. IDStar Cipta Teknologi)
Muhammad Egha (Co-Founder & CEO at DELUTION ENTERPRISE)
Joshua Kevin (Founder Talenta.co)
Tyovan Ari Widagdo (Founder Bahaso.com)
Yassa Singgih (President at Men’s Republic)

BINUS @Malang We Speak Entrepreneurship – jajaran alumni BINUS yang sukses dengan karirnya sebagai Technopreneure.

Yang keren dari mereka sebagai closing dari sesi kali ini adalah, ternyata kesemuanya itu alumni dari BINUS !

So, ngga salah banget kalo BINUS mengukuhkan diri sebagai THE FIRST DIGITAL TECHNOPRENEUR CAMPUS

Ps. Buat kalian yang baru lulus SMA/SMK, sangat disaranin banget buat lanjut kuliah disini. Hemm…, sebenernya bukan BINUS aja sih maksudnya, tapi cuman lha kok kebetulan cuman BINUS aja perguruan tinggi yang bener-bener fokus di digital technology dan entrepreneurship. Kalo di luaran ada juga kampus yang sama sih ya monggo aja. The point is….. digital technology dan entrepreneurship saat ini bahkan hingga 10-20 tahun kedepan masih amat sangat dibutuhkan!

Lha kalo ngga, ngapain juga aku fokus mendalami dan bergelut di Digital Strategy Expert, cuman bedanya sih aku ngga sempet ngerasain kuliah di BINUS ( semoga pak Stephen Wahyudi Santoso, BSE, MSIST membacanya, dan aku dapet beasiswa 100% dari BINUS)  😊

NEXT

5 KOMENTAR

  1. Amiin… semoga ya mas beasiswanya beneran dapet, hihihi. Btw, lengkap deh ulasannya karena aku juga baru tahu nih apa itu Binus. Sayang banget aku gak maksimal menyimak talkshownya. Tapi membaca artikel ini sudah cukup lah buat nambah pengetahuanku.

  2. meskipun lapangan pekerjaan offline masih menguasai hidup kita, tapi kalau hidupnya sehari2 nyambung sama internet memang rasanya ribuan pekerjaan terhampar selemparan jari2 kita. tinggal kitanya bagaimana mengatasi gap di antara offline dan online itu.

    eh baidewe, sama. nulisnya kyk markas batman :))) tapi yg keluar galgadot di akuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here