Akhirnya, untuk pertama kali dalam sejarah, Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” sukses digelar di Kawasan wisata alam Gunung Budheg, Tanggung – Campurdarat, Tulungagung. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini dengan bangga dibuka langsung oleh Bupati Tulungagung, Syahri Mulyo SE.MSi dan dihadiri juga oleh Supriono ketua DPRD Tulungagung. Prosesi pembukaan acara Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” ini juga di meriahkan oleh Komunitas Walikukun yang menampilhan seni tari reog kendang khas Tulungagung lengkap dengan barongannya. Selain itu juga ada penampilan musik “rampak lesung” dari ibu-ibu kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Gunung Budheg. Dihari kedua acara Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” ini adalah Jelajah situs dan pelatihan pendataan, dimana situs-situs sejarah yang di kunjungi secara marathon ini adalah Goa Selomangleng, Candi Sanggrahan, Candi Gayatri, Goa Pasir dan Museum Wajakensis. Yang membanggakan dari kegiatan ini adalah antusiasme peserta yang tidak hanya di dominasi oleh warga Tulungagung saja, tapi juga dari kota-kota lain, seperti Kediri, Blitar, Malang, Gresik dan lain sebagainya. Salah satunya adalah Vinna, pelajar dari kota Gresik ini mengaku sangat senang sekalibisa mengikuti kegiatan seperti ini. “Jarang ada kegiatan yang seperti ini, selama ini jika kita naik gunung hanya sekedar menikmati pemandangannya saja. Nah, di Kemah Budaya ini kita juga akan tau sejarah dari Gunung Budheg dan beberapa situs yang ada di Tulungagung. Sangat detail dan jelas karena dipandu oleh nara sumber yang kompeten dibidangnya” Jelas dara berkaca mata ini. Vinna yang saat itu berangkat dari Gresik dengan rombongan satu sekolah ini juga menyatakan ketakjubannya dengan keindahan alam dari Gunung Budheg. Setelah jelajah situs, acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok tentang hasil dari jelajah situs yang dipandu oleh sejarawan dari kota Malang, Dwi Cahyono. Setelah diskusi yang cukup berat, sekali lagi peserta Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” disuguhkan beberapa pentas seni bernuansa etnik dan ditutup dengan pelepasan lampion perdamaian. Septa D. Prasetyo selaku ketua panitia menyampaikan, pelepasan lampion ini bertujuan untuk refleksi perdamaian bagi seluruh umat manusia dan alam sekitar. Sadar dengan pencemaran lingkungan yang timbul akibat sampah lampion, pelepasan lampion perdamaian yang sediannya akan merilis 200 (dua ratus) lampion, oleh Septa D. Prasetyo dipangkas hingga hanya berjumlah kurang dari 20 (dua puluh) buah lampion. “Bukan jumlahnya, tapi makna dari pelepasan lampion perdamaian ini.” Jelas Septa D. Prasetyo. Dihari terakhir, sebagai acara puncak adalah Bhakti situs di Goa Tritis dan Secang yang dilanjutkan dengan refleksi dan penutupan. Para peserta Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” pun mendapatkan kenang-kenangan dari panitia berupa udheng dan sertifikat. Tentu juga kenangan tak terlupakan berupa pengalaman menarik dari rangkaian acara Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur”.

Akhirnya, untuk pertama kali dalam sejarah, Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” sukses digelar di Kawasan wisata alam Gunung Budheg, Tanggung – Campurdarat, Tulungagung. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini dengan bangga dibuka langsung oleh Bupati Tulungagung, Syahri Mulyo SE.MSi dan dihadiri juga oleh Supriono ketua DPRD Tulungagung.

Sebagian kegiatan Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur”

Prosesi pembukaan acara Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” ini juga di meriahkan oleh Komunitas Walikukun yang menampilhan seni tari reog kendang khas Tulungagung lengkap dengan barongannya. Selain itu juga ada penampilan musik “rampak lesung” dari ibu-ibu kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Gunung Budheg.

Dihari kedua acara Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” ini adalah Jelajah situs  dan pelatihan pendataan, dimana situs-situs sejarah yang di kunjungi secara marathon ini adalah Goa Selomangleng, Candi Sanggrahan, Candi Gayatri, Goa Pasir dan Museum Wajakensis.

PEnampilan Komunitas Walikukun dalam Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” dan apresiaisi dari salah satu wisatawan asing dari Italy.

Yang membanggakan dari kegiatan ini adalah antusiasme peserta yang tidak hanya di dominasi oleh warga Tulungagung saja, tapi juga dari kota-kota lain, seperti Kediri, Blitar, Malang, Gresik dan lain sebagainya. Salah satunya adalah Vinna, pelajar dari kota Gresik ini mengaku sangat senang sekalibisa mengikuti kegiatan seperti ini. “Jarang ada kegiatan yang seperti ini, selama ini jika kita naik gunung hanya sekedar menikmati pemandangannya saja. Nah, di Kemah Budaya ini kita juga akan tau sejarah dari Gunung Budheg dan beberapa situs yang ada di Tulungagung. Sangat detail dan jelas karena dipandu oleh nara sumber yang kompeten dibidangnya” Jelas dara berkaca mata ini.

Vinna, salah satu peserta Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” dari Gresik

Vinna yang saat itu berangkat dari Gresik dengan rombongan satu sekolah ini juga menyatakan ketakjubannya dengan keindahan alam dari Gunung Budheg.

Setelah jelajah situs, acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok tentang hasil dari jelajah situs yang dipandu oleh sejarawan dari kota Malang, Dwi Cahyono.

Setelah diskusi yang cukup berat, sekali lagi peserta Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” disuguhkan beberapa pentas seni bernuansa etnik dan ditutup dengan pelepasan lampion perdamaian.

Pelepasan lampion perdamaian Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur”

Septa D. Prasetyo selaku ketua panitia menyampaikan, pelepasan lampion ini bertujuan untuk refleksi perdamaian bagi seluruh umat manusia dan alam sekitar. Sadar dengan pencemaran lingkungan yang timbul akibat sampah lampion, pelepasan lampion perdamaian yang sediannya akan merilis 200 (dua ratus) lampion, oleh Septa D. Prasetyo dipangkas hingga hanya berjumlah kurang dari 20 (dua puluh) buah lampion. “Bukan jumlahnya, tapi makna dari pelepasan lampion perdamaian ini.” Jelas Septa D. Prasetyo.

Baca juga sebelumnya : KEMAH BUDAYA, FESTIVAL GUNUNG BUDHEG

Dihari terakhir, sebagai acara puncak adalah Bhakti situs di Goa Tritis dan Secang yang dilanjutkan dengan refleksi dan penutupan. Para peserta Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur” pun mendapatkan kenang-kenangan dari panitia berupa udheng dan sertifikat. Tentu juga kenangan tak terlupakan berupa pengalaman menarik dari rangkaian acara Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur”.

Sebagian panitia dan pengisi acara Kemah Budaya – Festival Gunung Budheg “Bhakti Tanah Leluhur”

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here