Kemah Budaya, Festival Gunung Budheg

Anda yang berdomisili di Tulungagung dan sekitarnya, pasti tidak merasa asing dengan tempat ini. Tempat yang penamaannya pun membawa cerita sejarah tersendiri ini, akhir-akhir ini semakin menjadi tempat wisata yang cukup terkenal bahkan sampai diluar kota Tulungagung sendiri. Ya, Gunung Budheg namanya. Di tempat ini rencananya pada tanggal 24-26 Februari 2017 besok akan dilaksanakan kegiatan bertajuk Kemah Budaya, Festival Gunung Budheg – Tulungagung dengan mengusung tema BHAKTI TANAH LELUHUR. Acara yang digagas oleh pegiat budaya komunitas Walikukun Kalidawir Tulungagung, komunitas Brangkidul Tulungagung, dan Gunung Budheg Learning center [GBLC] ini bertujuan untuk lebih menguatkan lagi kebudayaan asli daerah, terutama di Tulungagngu kepada generasi-generasi muda.

Sungguh sebuah apresiasi dan sambutan yang begitu besar dari peserta Kemah Budaya, pasalnya acara yang bertujuan untuk semakin mengenalkan dan mendekatkan kearifan lokal Tulungagung utamanya bidang seni, budaya,dan sejarah ini sampai saat ini, menurut data yang diterima panitia, peserta sudah mencapai angka 200an. Tidak hanya dari kota Tulungagung, peserta Kemah Budaya ini ternyata juga banyak diminati dari kota lain, sebut saja Blitar, Kediri, Gresik, Bandung, Trenggalek dan Bojonegoro.

Dwi Cahyono (arkeolog) sebagai salah satu nara suber acara Kemah Budaya saat survei lokasi.

Lalu apa yang jadi agenda di Festival Gunung Budheg ini? KEMAH BUDAYA Festival Gunung Budheg Tulungagung 2017 ini akan berisi beberapa rangkaian kegiatan antaranya sarasehan, pagelaran seni, dan jelajah situs sejarah Tulungagung bagian selatan sekitar Gunung Budheg yang akan dibagi dalam tiga hari secara marathon.

Acara yang sediannya akan dibuka langsung oleh Bapak Bupati Tulungagung Syahri Mulyo, S.E. ini menempati lokasi di bagian atas gardu pandang Gunung Budheg. Lokasi ini berada sekitar 100 meter dari Basecamp Gunung Budheg. Jika kita berdiri di atas panggung gardu Pandang, kita akan saksikan hamparan pemandangan indah di arah barat jauh ke arah pegunungan Trenggalek. Apabila balik badan, kita akan lihat puncak Gunung Budheg. Begitu juga untuk tempat berkemahnya, akan berada di sekitaran puncak Gunung Budheg yang terkenal keindahan viewnya saat sunrise tiba. Bagaimana dengan peserta yang tidak memiliki tenda dan kurang fit untuk berkemah? Tenang, panitia juga sudah menyiapkan beberapa rumah warga di sekitar kaki Gunung Budheg yang bisa digunakan sebagai guest house, bersosialisasi dengan warga sekitar dengan budayanya ditambah dengan kelezatan menu masakan khas penduduk, menjadi sebuah pengalaman tersendiri yang tak terlupakan.

Rencana desain sampul buku Memoar KEMAH BUDAYA 2017.

Ada 1 lagi yang special dari gelaran Kemah Budaya, festival Gunung Budheg ini, yaitu turut berpartisipasinya Sanggar Kepenulisan PENA ANANDA CLUB. Melalui unit penerbitannya, PENA ANANDA INDIE PUBLISHING, Pena Ananda Club akan menerbitkan buku dokumentasi penyelenggaraan, gagasan, karya, dari setiap partisipan (peserta) KEMAH BUDAYA, FESTIVAL GUNUNG BUDHEG 2017.

Menurut founder Pena Ananda Club yang biasa di panggil Bunda Zaky Zahra Tuga ini mengatakan bahwa tujuan diterbitkannya buku Memoar KEMAH BUDAYA 2017 ini selain mendokumentasikan bukti-bukti penyelenggaraan, catatan dan karya penyelenggara dan peserta sebagai alat indikator keberlangsungan dan keberhasilan kegiatan KEMAH BUDAYA, FESTIVAL GUNUNG BUDHEG, juga bisa menjadi buah tangan (cenderamata) bagi para wisatawan dan tamu, khususnya bagi warga Gunung Budheg, dan umumnya bagi Tulungagung. Detail ketentuan dalam pembuatan buku ini, bisa di lihat disini.

Jangan khawatir, bagi anda yang masih belum mendaftar sebagai salah satu bagian sejarah Kemah Budaya ini, masih ada kesempatan, silahkan untuk menghubungi : Septa ( 081216015453 ), Miko ( 08563637326 ), atau bisa juga mengunjungi situs resminya disini.

Rencana Rundown acara Kemah Budaya, Festival Gunung Budheg

6 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here