Susah Sinyal – Bukan Melulu Tentang Sinyal, Tapi…

Seolah meneruskan tradisi, Ernest Prakasa di 2017 ini kembali menghadirkan film yang cocok sebagai pengisi libur akhir tahun: SUSAH SINYAL. Ini adalah film ketiga yang disutradarainya setelah NGENEST pada 2015 dan CEK TOKO SEBELAH (2016). Ketiganya sama-sama tayang perdana pada akhir Desember di tahun tersebut.

Susah Sinyal bercerita tentang Ellen (Adinia Wirasti) seorang pengacara yang sukses di ruang pengadilan namun tidaklah demikian ketika di ruang privat : rumah. Ellen adalah seorang ibu tunggal dari anak perempuan semata wayang yang sudah beranjak remaja, Kiara (Aurora Ribero). Kiara ini seorang kids jaman now yang lebih banyak diasuh neneknya, Agatha (Niniek L. Karim), ketimbang oleh ibunya yang busy bingitz.

Terlebih saat ini Ellen sedang sibuk-sibuknya mengurusi kasus pertama dari firma hukum yang baru dibentuknya bersama Iwan (Ernest Prakasa) : gugatan perceraian dua selebritas papan atas yang penuh drama Cassandra (Gisella Anastasia) dan Marco (Gading Marten). Makin sulit bagi Ellen untuk bisa meluangkan waktu bersama Kiara.

Ellen (AdiniaWirasti) menjadi soerang pengacara sukses, sekalaigus seorang single mom yang super sibuk. Credit Starvision

Akankah Ellen dan Kiara yang dari semula memang kurang baik pola komunikasinya bisa memperbaiki ‘sinyal’ komunikasi mereka selepas berlibur berdua ke Sumba yang, menurut Yos (Abdur Arsyad) dan Melky (Arie Kriting), sinyal GSM-nya geser sedikit mati? Ataukah pola hubungan ibu-anak yang usianya nyaris sepantar ini malah makin runyam?

Dari awal saya tidak pernah menganggap (bahkan berharap) Susah Sinyal sebagai sebuah film komedi. Ia adalah film drama serius (tentang) keluarga yang ada lucu-lucunya. Di sinilah, menurut saya, letak ke-khas-an film-film besutan Ernest Prakasa. Dramanya sudah jadi dulu, baru kemudian disuntikkan elemen-elemen lucunya. Dan ini: SYAKSES BESAR!

Berpengalaman menulis di beberapa film sebelumnya membuat skenario besutan duo suami-istri Ernest Prakasa-Meira Anastasia ini terasa makin matang. Alur ceritanya logis dan dramatisasinya tidak berlebihan.

Baca juga : Mau Jadi Apa? : Aku Berproses Maka Aku Ada

Frasa ‘susah sinyal’ yang menjadi judul film inipun ternyata bisa diartikan lain. Bukan melulu tentang sinyal ponsel yang dikatakan GSM (geser sedikit mati), melainkan juga tentang ‘sinyal’ komunikasi antara satu orang dengan orang lainnya yang sulit ditangkap. Istilahnya: miskomunikasi. Salah paham.

Ambil contoh apa yang terjadi antara Ellen dan Kiara. Sangking jarangnya mereka ngobrol (Ellen lebih sering menginap di kantor ketimbang pulang ke rumah), Ellen bahkan tidak tahu Kiara ikut ajang pencarian bakat dan Kiara tidak tahu beratnya perjuangan Ellen untuk memastikan penghidupan yang baik bagi mereka sekeluarga. Hal-hal yang sangat berarti. Konflik di antara mereka tak lebih dari kesalahpahaman.

Selain itu Arie Kriting sebagai konsultan komedi benar-benar mampu menghadirkan komedi pengocok perut yang sebagian besar referensinya bisa dipahami oleh kebanyakan penonton. Timing serta porsinya-pun pas, tidak memaksa untuk jadi lucu di setiap adegan filmnya. Penonton jadi ada waktu untuk beristirohat mengambil nafas dan bersiap tertawa kembali.

Seperti tulis Dewi Lestari dalam salah satu sajaknya: “…seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?” (Spasi – 1998). Ya, lelucon yang terus-terusan hanya akan membuat ia kehilangan kelucuannya.

Pertama kali menjadi hype semenjak Pendekar Tongkat Emas-nya Ifa Isfansyah di tahun 2014 (sebenarnya Garin Nugroho sudah pernah memperkenalkannya melalui Surat Untuk Bidadari (1994), tapi itu kan terlalu kids jaman old. Hehee..), eksotisme lansekap Sumba, Nusa Tenggara Timur begitu mengundang untuk dijelajahi. Daerah yang berbukit-bukit, padang rumput yang gersang, dan kuda-kuda liar, menjadi latar liburan yang memanjakan mata, kendati gambar-gambarnya terasa kurang ‘genit’ saja bagi saya. Cukupan, lah.

Aktor-aktornya juga, sebagian sangat besar, bermain cemerlang. Dan apabila ada di antara Anda yang merasa kok Susah Sinyal ini seperti reuni pemain-pemain Cek Toko Sebelah, ya? Ya jangan heran. Tercatat Adinia Wirasti, Chew Kinwah, Asri Welas, Gisella Anastasia, Dodit Mulyanto, dan Aci Resti bermain di Susah Sinyal ini. Koncoisme ala Ernest Prakasa(?). Hehee..

Mau cari film susah sinyal full movie? Saksikan di bioskop-bioskop kesayangan Anda, jangan nunggu donlot gratisan.

 

NB: Ada bonus menarik bagi fans JKT48. Ada sosok yang sangat kita kenal ikut bermain di film ini (peran kecil saja, sih). Inisialnya: SCW. Hehee.. Ciciii!!!

SUSAH SINYAL

Jenis Film            :  Drama Komedi
Produser             :  Chand Parwez Servia, FiazServia
Sutradara            :  Ernest Prakasa
Penulis                :  Ernest Prakasa, Meira Anastasia
Produksi              :  Starvision
Para Pemain        :  Adinia Wirasti, Ernest Prakasa, Aurora Ribero, Refal Hady, Valerie Thomas,
Niniek L Karim, Chew Kinwah, Asri Welas, Abdur Arsyad, Arie Kriting, Gisella Anastasia,
Gading Marten, Dodit Mulyanto, Aci Resti, Darius Sinathrya, Ge Pamungkas,
Angie Ang, Selfi Nafilah, Cut Beby Tshabina, Slamet Rahardjo Djarot, Andien Aisyah,
JRX, Eddy M. Meijer, Dayu Wijanto, Arief Didu, Roslina Verauli, Arry Wibowo,
Meira Anastasia, Sky Tierra Solana, Henky Solaiman, Arif Brata, Yusril Fahriza,
Stella Cornelia, Muhadkly Acho, Anantarizki, Reza Chandika, Anjas Chambank,
Soleh Solihun, Lolox, Gita Bhebhita, Bene Dion Rajagukguk, Kemal Giffari, Ucita Pohan,
Ardit Erwandha, Patrick Effendy, dll.

Related posts

2 Thoughts to “Susah Sinyal – Bukan Melulu Tentang Sinyal, Tapi…”

  1. Nikma tantenya Haekal

    Autofokus sama Eddy Malik, anaknya Tante Maudy, yang masish kecil tapi sudah menawan :v

  2. Zie

    Wah ada Dodit juga… semoga pekan depan masih ada…pingin nonton…

Tinggalkan Balasan