A Star Is Born: Takdir Selalu Temukan Jalan

Lady Gaga and Bradley Cooper’s new film 'A Star Is Born'

“…tidaksetiap orang bisa menjadi seniman besar, tapi seorang seniman besar bisa berasal dari latar belakang apa saja..”

—Anton Ego; RATATOUILLE(2007)

NONTON A STAR IS BORN, mau tidak mau saya teringat pada kata-kata Anton Ego di film animasi Ratatouille: “seorang seniman besar bisa berasal dari latar belakang apa saja.” Tengok ALLY CAMPANA (Lady Gaga). Ia yang hanya seorang pelayan restoran rendahan, yang kadang menyanyi paruh waktu di sebuah bar waria, ternyata menyimpan takdir untuk menjadi seorang penyanyi besar. Seorang bintang tanpa tandingan. Ia hanya sedang menunggu saja Semesta mengirimkan kepadanya seorang JACKSON MAINE (Bradley Cooper), penyanyi country tersohor, yang sayangnya pecandu alkohol

Ya, Jackson memang seorang musisi hebat dengan ribuan penggemar. Tapi sebelum, selama, dan setiap habis naik panggung, alkohol adalah teman sejatinya. Tapi malam itu, di malam yang kebetulan itu, dalam perjalanan pulang ternyata ia kehabisan alkohol. Padahal rumah masih sekitar dua jam lagi perjalanan. Di sebuah daerah asing ia asal saja masuk ke sebuah bar untuk beli minuman, yang tanpa ia tahu di malam itu, di bar itu, Ally sang (calon) primadona akan naik bar. Eh, panggung. Tangan-tangan takdir yang misterius segera memanggungkan pertemuan Ally dan Jackson.

“Onok omben-omben, a, Cak?” tanya Jackson kepada salah seorang tamu di bar itu, yang tentu saja ekspresinya langsung berubah sumringah begitu mengenali siapa yang mengajaknya bicara: Jackson Maine! Artis!

Singkat kata singkat cerita, setelah perkenalan yang berkesan, Ally dan Jackson pun jatuh cinta. Pada pandangan pertama, pandangan kedua, pandangan ketiga, dan seterusnya sampai tua. Cerita bergulir mengikuti dinamika Ally dari yang semula sebuah kepompong, bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu cantik di panggung pertunjukan Amerika. Kepak sayapnya yang memikat membuat Jackson akhirnya merasa menemukan rumah, a home, di hati Ally Campana. Pertemuan mereka sudah digariskan Semesta. Dan apa-apa yang akan terjadi setelahnya.

Lalu timbul pertanyaan, akankah film ini kemudian terjebak menjadi kisah romansa yang tokoh-tokohnya setelah bertemu jodohnya kemudian hidup bahagia selama-lamanya bak dongeng Cinderella? Oh, tentu tidak, Kawan. Karena di titik ini jalannya cerita kira-kira masih setengah jalan. Jangan buru-buru. Paruh kedua film ini akan mengaduk lebih banyak emosi penonton. Trust me!

A Star Is Born Movie Poster Lady Gaga Bradley Cooper

A Star Is Born Movie Poster Lady Gaga Bradley Cooper

A Star Is Born merupakan debut penyutradaraan Bradley Cooper. Merangkap sebagai produser, penulis skenario, serta aktor utama. Mirip Raditya Dika. Kendati demikian, Bradley Cooper tidak nampak canggung mengarahkan film ini. Ia tahu betul cerita apa yang hendak ia sampaikan ke penonton, dan bagaimana cara menyampaikannya. What to tell, and how to tell it.

Plus dia yakin betul dengan intelejensia penontonnya. Beberapa adegan penting cukup disampaikan secara simbolis, lewat detil-detil kecil, lewat ekspresi-ekspresi mikro pemainnya, lewat mata yang mendadak sembab dan memerah, lewat penataan cahaya, lewat musik dan lirik yang digunakan. Termasuk keberadaan anjingnya. Sampai ternganga-nganga, saya.

Lalu Lady Gaga? Hehee.., masih perlu dibahas? She’s monster!

A Star Is Born jelas bukan jenis film yang untuk ditonton di sempitnya layar komputer di rumah. Atau di warnet. Tidak. Bioskop dengan layar lebar dan tata suara mumpuni adalah sebuah kewajiban. Siapa tak tergoda dengan sensasi suara musik yang berdentam-dentam menggetar perut, eh dada? Headset dan speaker laptop Anda tidak akan mampu menghadirkan sensasi ini. Jadi, tonton di bioskop, ya?!

NEXT

Related posts

Tinggalkan Balasan