Ngomongin tentang kelud, seakan nggak ada habisnya. Pasca letusan terakhir ( Februari 2014), Kelud telah mempercantik wajahnya, dan itu harus di nikmati. Ibarat bisul di pantat, kemarin bisulnya udah pecah, dan sekarang wajah Kelud seakan lebih berseri dari biasanya. Minimal itulah yang saya denger dari temen-temen saya, yang justru membuat saya semakin penasaran dengan tampilan wajah kelud terkini.

Jika kemarin saya sempet mengunjungi kelud pasca letusan hari ke-3. Itu pun denagn pertimbangan untuk lebih “safety”, sehingga membuat saya memilih jalur umum, yaitu via kediri dan hanya sampai pintu gerbang wisata gunung kelud. Hari ini saya mencoba untuk lebih extreme, mencoba jalur yang belum terlalu banyak dilalui masyarakat umum, khususnya wisatawan luar kota seperti saya.


MOLOR

(tidak ) sesuai rencana, hari ini ( minggu, 22 Juni 2014) saya dan 5 teman yang lain berangkat dari kota Malang tepat pukul 9.00 (kesiangan…!!! Padahal planning jam 5 pagi berangkat, tapi yaaahhhh….., kaya nggak tau kita aja). Karna kesiangan akses jalan Malang-Blitar pun jadi sedikit tersendat di jalan-jalan yang udah jadi langganan macet.

Sampai di perempatan pasar Garum ke utara, kita sudah di jemput oleh mas Ardiansyah sekeluarga untuk mengantar rombongan kita, maklum, dari kita ber-6 belum ada satupun yang pernak ke lokasi lewat jalur ini.

Masuk desa Karangrejo – Garum, medan sudah mulai “menyenangkan”, tanah berbatu dengan lebar tidak lebih dari 5 meter meluk-liuk naik-turun di depan saya, dibeberapa titik jalan masih ada yang tertutup sisa debu vulkanik dari Gunung Kelud. Semakin masuk kedalam lokasi, semakin berasa sensasi offroad-nya, untunglah saudara kembar “Rush” yang kita naikin nggak ada masalah melahap medan yang ada.

perjalanan yang begitu berat menuju Gunung Kelud, namun pemandangannya cukup menyenangkan
perjalanan yang begitu berat menuju Gunung Kelud, namun pemandangannya cukup menyenangkan

POST TO POST

Finaly, kita sampai di pos awal pemberhentian setelah sedikit memacu  adrenalin melewati jalan sempit yang di apit oleh tebing dan jurang. Di pos 1 ini, awal perjalanan seru dimulai (padahal dari masuk desa Karangrejo, sudah cukup seru) kita akan di sambut beberapa pemuda desa setempat yang mengatas namakan “Paguyuban Perintis Kelud” yang siap memandu perjalanan kita menuju ke puncak Kelud. Pak Suryadi (32) salah satu penggerak Paguyuban Perintis Kelud dengan ramah menghampiri rombongan kami. Sambutan yang diberikan memberikan kesan yang ramah dan bersahabat. Sesekali beliau menceritakan tentang sejarah kelud, mengingatkan kita tentang bawaan yang diperlukan kala di atas, dan berkali-kali menyampaikan untuk jangan sungkan meminta bantuan beliau dan rekan-rekan lain jika di perlukan.

Di pos 1 ini, selain di fungsikan sebagai tempat parkir kendaraan, juga sebagai awal transaksi penggunaan jasa ojek dan guide ke puncak Kelud, tidak ada kesan pemaksaan dari mereka, justru lebih ke himbauan. Simple saja “kalo ngeyel, yo budhal o dewe”, kalo memang merasa bisa sendiri untuk menuju kesana, ya silahkan saja. Di pos 1 ini juga terdapat Kamar mandi dan WC umum yang didirikan untuk wisatawan yang membutuhkan. Sebagi catatan, rute menuju puncak Kelud akan melewati 4 pos, dan hanya di pos 1 yang di lengkapi dengan Kamar mandi umum.

Setelah selesai mempersiapkan semua yang perlu di bawa, kita mulai perjalanan selanjutnya dengan mengendarai ojek. He he he…, seru abis…!! Dengan kendaraan seadanya (kendaran memang milik pribadi dari masing-masing anggota Paguyuban Perintis Kelud) ada yang type bebek, matic, syukur-syukur dapet trail abal-abal, perjalanan masih 50 meter, roda belakang sudah selip kemana-mana. Tidak jarang kita juga terpaksa turun dan berjalan kaki5-10 meter, karena medan yang di lewati menanjak extreme!

Sesampainya di pos 2, kita sudah di suguhkan pemandangan yang menabjubkan. Tepat di depan pos 2, kita bisa menikmati pemandangan Sungai putih.  Kenapa disebut sungai putih, karena sebenarnya ini bukanlah sungai, tapi celah gunung yang menjadi “Jalan” lahar gunung kelud pada saat letusan, sehingga sekarang sungai tersebut terlihat kering dan berwarna putih, karena masih dipenuhi dengan abu vulkanik. Bahkan di beberapa bagian , masih mengeluarkan asap panas. Di pos 2 ternyata lagi-lagi kita disambut, kali ini oleh pak Agus. Siapa beliau? Nanti kita ceritakan di belakang aja ya…. Sekarng saya mau menyantap makan pagi yang sudah dibawakan oleh pak Agus, Lapaaarrr… Tentunya sambil menikmati puncak Gunung Gajah Mungkur, Gunung Buthak, Gunung Sumbing dan Gunung Jebuk yang kesemuannya merupakan anakan dari Gunung Kelud.

Lanjut perjalanan ke pos 3 dan 4, masih dengan menggunakan speda motor dengan jalur fun offroad. Ada cerita tersendiri dari jalan yang kita lalui. Ternyata menurut temen-temen Paguyuban Perintis Kelud, jalan ini sebelumnya hanyalah jalan setapak yang mereka gunakan untuk jalur sehari-hari mencari rumput untuk makan ternak. Namun setelah kejadian Gunung Kelud meletus bulan Februari kemarin, para pemuda penduduk setempat berinisiatif untuk melebarkan jalan untuk mempermudah akses jalan ke puncak kelud. Ide itu muncul setelah beberapa warga setempat dan tetangga-tetangga desa berbondong-bondong ingin menyaksikan puncak kelud pasca letusan, sehingga dibentuklah kelompok “Paguyuban Perintis Kelud” ini yang hingga saat ini berjumlah 20 pemuda yang kesemuannya berasal dari desa Karangrejo sendiri. Tidak hanya akses jalan yang di perlebar, Paguyuban yang dana awalnya benar-benar dari angotanya masing-masing ini bertekat untuk membuat kawasan wisata di puncak Kelud, perlahan tapi pasti, sumbangan warga dan upah dari ojek dan guide mereka kumpulkan untuk membangun sarana dan prasarana. Beberapa jalan yang terlalu menanjak, mereka bangunkan jalan beton, tali-tali bantuan untuk mendaki juga mereka pasang di titik-titik tertentu, anak tangga untuk menuruni sungai dll.

Pendakian yang cukup curang, membuat terpaksa harus turun dan berjalan kaki.
Pendakian yang cukup curang, membuat terpaksa harus turun dan berjalan kaki.

Akhirnya, kita sudah sampai di titik pemberhentian terakhir kendaraan. Selanjutnya kita akan mendaki menuju puncak. Dengan di pandu 2(dua) orang guide, kita mulai perjalanan menyusuri tebing. Ada hal menarik disepanjang perjalanan, material sisa letusan gunung kelud masih sangat tebal menyelimuti hampir seluruh tempat yang kita lalui. Terhampar putih , serasa berjalan di gurun pasir. Ditambah dengan pohon-pohon yang mati, hingga tersisa kayu yang berserakan di semua tempat, menyuguhkan pemandangan yang jarang kita temui di tempat lain.

Tak terduga sebelumnya, perjalanan mendaki begitu terasa berat, memakan waktu hingga lebih dari 1 jam perjalanan membuat beberapa rombongan kita bertumbangan. Mas Helmi adalah korban pertama yang terpaksa menghentikan perjalanannya di menit-menit awal, disusul dengan Mas Rahadi di paruh perjalanan selanjutnya. Jarak yang cukup jauh,medan yang terselimuti bebatuan dan semakin tipisnya udara menjadi beberapa faktor beratnya jalan menuju ke puncak Kelud. Semangat saya pun hanya bermodal “harus” tau puncak kelud sekarang, padahal nafas sudah senin-kamis.

Sial…!! Setengah mati menempuh perjalanan yang cukup berat. Sesampainya di puncak gunung Butak, sampai juga awan pekat menyelimuti seluruh permukaan. Apess…. Padahal jika cuaca cerah masih ada 2 tempat lagi yang harus di lewati, yaitu puncak gunung sumbing dan baru turun ke kawah Kelud. Dengan turunya kabut pekat ini buyar sudah acara utama”Hunting foto”!, benar-benar jadi hutang yang belum terbayar lunas.

Tak lama setelah saya dan sisa rombongan menghabiskan waktu sia-sia di puncak Butak, datang rombongan pak Agus yang baru sampai kawah kelud. Tampak keramahan dari rombongan, meski belum pernah kenal sbelumnya. Pak Agus yang merupakan pengusaha Poultry Shop ini ternyata juga penggerak sekaligus penyumbang dana untuk pengembangan wisata Gunung Kelud di wilayah Karangrejo-Garum-Blitar.

Pohon-pohon tumbang akigat erupsi dari Gunung Kelud menjadi pemandangan udata sepanjang jalan pendakian.
Pohon-pohon tumbang akigat erupsi dari Gunung Kelud menjadi pemandangan udata sepanjang jalan pendakian.

Kenyang ngobrol, hunting “maksa” dan waktu yang sudah menjelang sore, kitapun beranjak untuk turun. Kabut yang masih sangat tebal dan jarak pandang yang terbatas, memaksa kita untuk lebih berhati-hati saat menuruni puncak Buthak yang mempunyai kemiringan sekitar 40 derajat dengan permukaan berbatu! Alhasil,”nyungsep”, ngesot, dan mendarat dengan pantat pun jamak terjadi. “Maklum, kita fotografer bukan pendaki gunung” celotehku beberapa saat setelah “ndlosor” dan disambut senyuman para guide yang membantu saya berdiri. Ternyata tidak semelalahkan saat berangkat, dengan sedikit ilmu meringankan tubuh dan lompatan maut, waktu yang di butuhkan untuk kembali di pos 4 hanya kurang lebih 40 menit. Disana sudah siap rombongan ojek yang dengan setia menunggu untuk mengantar kita turun ke bawah.

Yang namnya rejeki memang tidak kemana, perjalanan turun kita masih di suruh berhenti dan istiraht dulu di pos 2. Disana sudah menunggu pak Agus beserta istrinya yang ternyata memang berhobi sama, yaitu mendaki gungung! Kita disuguhin nasi bungkus dan kopi hitam buatan bu Gati, yang memang setiap harinya berjualan nasi dan minuman di pos 2 ini.

Lukisan Alam, maha karya Sang Pencipta.
Lukisan Alam, maha karya Sang Pencipta.

Sebenarnya masih krasan ngobrol, tapi dengan sopan pak Suprap yang merupakan ketua dari Paguyuban Peintis Kelud mengingatkan jika waktu sudah semakin sore. Kitapun berpamitan pulang, tentu dengan menyelesaikan masalah pembayaran jasa mereka dulu. Untuk ojek dikenakan biaya 30ribu / orang untuk pulang pergi dari pos 1 sampai pos 4 dan guide dari pos 4 sampai puncak gunung Butak dikenakan tariff 80rb/guide, dan jika sampai ke kawah biayany 100rb/guide. Sebuah harga yang pantas bagi mereka, mengingat perjalanan yang di tempuh pun  juga cukup berat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here